Senin, 20 Juni 2016

Menjadi Seorang Amatir



Suatu hari saat sedang menelusuri pameran bersama seorang teman, kami mengunjungi sebuah tempat yang memamerkan hasil foto alam. Temanku ini seorang fotografer professional yang telah banyak menghasilkan karya yang terbukti berkualitas. Dia tergelitik untuk melihat hasil karya anak-anak yang ada di galeri tersebut.

Kami berdua masuk dan melihat-lihat, bagiku foto-foto tersebut biasa saja. Rata-rata berwarna hitam putih, mereka menjual setiap foto itu dengan jarak harga 1,5 juta sampai 3,5 juta dan ada satu karya yang mencapai 15 juta, tetapi bagiku foto itu biasa saja. Namun karena saat itu fotograpy belum pernah kupelajari, aku memilih diam sampai temanku bertanya.

"Bagaimana menurutmu Ron?" tanyanya dengan wajah serius.

"Entahlah, aku tidak mengerti soal ini." Aku berusaha mencari feel dari foto-foto ini.

"Ayolah, asal saja."

"Menurutku biasa saja."

"Kau benar, foto yang bagus akan terlihat bagus bahkan di mata orang yang tidak mengerti fotograpy sama sekali, mereka hanya tidak tahu kenapa foto itu bagus, sementara yang mempelajarinya tahu dimana letak dan cara menciptakan kebagusan itu." papar temanku.

"Hm.. Sepertinya aku mengerti maksudmu."

"Anak-anak ini terlalu ambisius memasang harga, bahkan setelah 10 tahun aku bekerja di bidang ini, aku tidak pernah menjual satu foto sampai 3juta."

Entah kenapa, Percakapan itu melekat untuk waktu yang lama di pikiranku. Beberapa waktu kemudian, aku berbincang dengan dua orang sahabat. Mereka berdua, memiliki banyak bakat dan karya diberbagai bidang, tapi ada satu bidang yang menonjol. Orang yang pertama adalah seorang yang ahli dibidang perbankan, sebut saja Ali sementara yang satunya seorang yang ahli dibidang kejiwaan, sebut saja Robert.


Ali, lebih suka mengenalkan dirinya sebagai seorang Chef padahal dia hanya memasak di rumah dan baru memulai bidang memasak selama kurang lebih setahun dengan belajar secara otodidak dari facebook, sementara Robert lebih senang menyebut dirinya olahragawan bulu tangkis.

Kami membahas tentang profesi, saat itu Robert mengeluhkan di Indonesia, banyak orang yang menjadi sesuatu yang baru dikerjakannya satu dua kali sebagai profesinya, membuat profesi itu nampak remeh.

Contoh yang dimaksud Robert adalah seseorang yang baru memiliki kamera menyebut dirinya fotografer, orang yang baru belajar dandan menyebut dirinya Make up Artist dan sejenisnya. Ali kemudian menambahkan sesuatu yang kita kenal One Hit Wonder.

Itu adalah sebuah fenomena dimana seseorang dikenal, disebut profesional di bidangnya hanya dari sebuah karya yang meledak sekali namun karya-karya berikutnya tidak pernah terdengar lagi, seringkali dalam dunia musik dan penulisan.

Mereka berdiskusi sementara aku mendengarkan hingga akhirnya mereka sampai titik pembahasan seseorang dibagi menjadi profesional dan amatir. Saat itu aku tertarik untuk masuk di dalam diskusi.

Pertanyaanku, apa itu amatir? dan apa patokan seseorang disebut profesional di bidangnya?

Saat ini dalam profesi kita mengenal dua istilah ini, padahal kalau kita teliti lebih jauh amatir dan profesional tidak memiliki tolak ukur yang jelas. Apakah tolak ukurnya?

Jumlah karya? Ada juga yang menulis sedikit buku tetapi disebut profesional sementara yang menulis belasan buku tetapi karyanya biasa-biasa saja.

Lamanya seseorang mengeluti profesi itu? Ada orang yang lama di suatu profesi tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang baik sementara orang yang baru masuk langsung menjadi bintang.

Kualitas? Ya, biasa tolak ukur yang paling dipakai adalah kualitas, tetapi bahkan di kalangan profesional ada berbagai tingkat kualitas yang berbeda, tolak ukur minimalnya tidak jelas.

Pengalaman? Ambigu juga.

Lihat, tidak ada tolak ukur yang jelas, profesionalisme adalah pengakuan atau kapasitas seseorang yang dinilai oleh orang lain, orang yang berbeda bisa memandang anda berbeda. Misalnya A menilai anda sudah profesional, sedangkan B ternyata merasa anda tidak pantas disebut demikian. Aku seringkali merasakan itu di beberapa bidang yang kugeluti.

Hal itu membuat kedua sahabatku berpikir keras, sementara aku tersenyum menunggu jawaban mereka. Setelah hening cukup lama, aku membawa kembali diskusi ini.

"Ali, kamu seorang ahli keuangan, kamu bekerja sangat lama di bank, kenapa kamu ingin dibandang sebagai chef? dan kamu adalah ahli kejiwaan yang hebat, Robert kenapa justru mengatakan bahwa dirimu seorang pemain bulu tangkis? Aku sendiri memiliki bidang-bidang yang lebih kukuasi, jauh kupahami, tetapi aku kini menyebut diriku penulis, bidang yang baru kudalami kurang lebih setahun ini. Kenapa?"

Pada dasarnya setiap orang malu, takut dan minder jika dianggap sebagai amatir dalam bidang yang dia geluti tetapi beberapa orang justru menjadikan bidang yang belum dia kuasai sebagai identitas dirinya.

Amatir sendiri memiliki arti yang baik, diambil dari bahasa Prancis Amator yang artinya Love of atau "Pencinta".  Amatir adalah orang yang melakukan sesuatu atas dasar kesenangan, memperjuangkan karya dengan semangat cinta, tanpa menghiraukan potensi kesohoran, uang, atau karir -keuntungan yang kerap didapatkan oleh para profesional.

Oleh karena itu, tidak banyak yang dipertaruhkan, para amatir bersedia mencoba apa saja dan berbagi hasilnya. Mereka mengambil kesempatan, bereksperimen dan mengikuti naluri.

Kadang, dalam proses mengerjakan sesuatu secara tidak profesional, mereka menemukan hal-hal baru. "Dalam benak pemula, ada banyak kemungkinan," kata rahib Zen Shunryu Suzuki. "Kemungkinan itu hanya sedikit di benak para pakar".

Amatir tidak takut salah atau tampak memalukan di muka umum. Mereka tidak ragu melakukan pekerjaan konyol atau bahkan bodoh. "Hal paling menggelikan dalam tindakan kreatif pun tergolong tindakan kreatif," tulis Clay Shirky dalam bukunya Cognitive Surplus.

Dalam dunia kerja kreatif, perbedaan antara jelek dan bagus sangat luas. Penilaian sebuah karya tidak berasal dari ukuran-ukuran yang sempit dan absolut. Kalaupun karyamu belum termasuk bagus, selalu ada kesempatan untuk berlatih. Tak ada beda antara bagus dan jelek. Yang membedakan adalah berkarya dan tidak berkarya. Amatir tahu bahwa menyumbangkan sesuatu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Amatir mungkin tidak mengenyam pendidikan formal, tetapi mereka menjadi pembelajar seumur hidup. Mereka belajar secara terbuka sehingga orang lain dapat belajar dari keberhasilan dan kegagalan mereka.

Penulis David Foster Wallace menyatakan bahwa nonfiksi yang bagus adalah kesempatan untuk "mengamati seseorang yang cukup cerdas dan berpikir sangat mendalam mengenai berbagai hal daripada yang sempat kita lakukan dalam keseharian". Itulah amatir, mereka hanya orang biasa yang terobsesi pada sesuatu dan menghabiskan waktu untuk memikirkannya.

Dunia ini berubah begitu cepat sehingga mengharuskan kita semua menjadi amatir. Bahkan bagi profesional, cara terbaik untuk berkembang adalah meraih kembali semangat amatir, lalu merengkuh ketidakjelasan dan keterasingan.

Tidak banyak yang sadar ketika dirinya menjadi seorang amatir, mereka yang benar-benar menjadi amatir justru tidak malu menunjukan identitas dirinya walaupun belum mahir di bidang tersebut, seperti kami bertiga yang mencintai bidang baru yang kami geluti.

Pada kenyataannya semua orang di dunia ini adalah Amatir dan orang yang kehilangan jiwa Amatirnya. Seperti kutipan Charlie Chaplin yang terkenal, "Begitulah kita semua, Amatir. Umur kita terlalu pendek untuk menjadi yang lain."

Jadi jangan malu menjadi seorang Amatir, terus miliki semangat Amatir dan anda akan terkejut betapa banyak yang sudah anda lakukan untuk diri sendiri dan orang lain.

- Ron, seorang Amatir

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)