Selasa, 21 Juni 2016

Memberi untuk Menjadi Manusia yang Lebih Bahagia

Aku belajar memberi bukan karena aku memiliki lebih,
tetapi karena aku tau rasanya tidak memiliki apapun.

Di era yang seringkali kita sebut era perubahan, komunikasi dan globalisasi ini justru sepertinya jauh dari arti kata-kata tersebut. Ya memang ada perubahan tetapi sulit dikatakan perubahan yang baik, Manusia jadi semakin individualis dalam dunia sosial. Banyak manusia yang berusaha mengambil keuntungan dari orang lain dan hanya peduli dirinya sendiri, yang menyedihkan adalah ini juga banyak terjadi di negeri kita tercinta ini.

Kini banyak orang yang berinteraksi hanya untuk mendapatkan sebuah keuntungan, seperti bagian yang kuceritakan pada tulisan Arti Seorang Sahabat tentang sahabatku yang mengeluhkan banyak orang yang mendekatinya hanya untuk mengambil keuntungan darinya seperti popularitas.

Padahal di masa kini justru sangat dibutuhkan orang-orang yang peduli pada sekitarnya, mau bersosial dengan tulus dan berkomunikasi dengan manusia lainnya terutama kita di Indonesia.

Indonesia memiliki lebih dari 40 juta penduduk yang tercatat berada di bawah garis kemiskinan, itu artinya hidup mereka lebih buruk daripada mereka yang miskin. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah memikirkan hari esok, hanya memikirkan apakah hari ini mereka bisa mengisi perut mereka yang lapar. Ya, ada lebih dari 40 juta manusia di Indonesia yang hidup seperti itu. Setiap hari mereka bertahan dengan mencari sesuap nasi, dan sebagian besar dari mereka masih dapat hidup karena ada segelintir orang yang masih peduli.

Ketika membaca ini, sebagian besar orang akan menyalahkan pemerintah, bahwa ketidak mampuan pemerintahlah yang menyebabkan ekonomi yang begitu buruk. Sebenarnya ya dan tidak.

Ya, pemerintah memang menjadi penyebab utamanya kemiskinan begitu terpelihara selama puluhan tahun di negeri kita ini, bisa kita lihat dari kebijakan pemerintah pada undang-undang 1945 pasal 34 ayat 1, "Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh pemerintah." Ini sebenarnya yang menjadi kesalahan pemerintah, karena semakin dipelihara makin banyaklah kelompok masyarakat ekonomi ini.

Tidak, pemerintah sebenarnya hanya menjamin kesejahteraan rakyatnya bukan memanjakannya. Tugas pemerintah adalah membangun sistem dimana rakyat bisa sejahtera, tentu jika dia berusaha. Percuma saja jika pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan baru yang banyak tetapi rakyatnya malas dan maunya berharap uang tunai tanpa bekerja?

Di negara-negara maju yang berdasarkan demokrasi juga, yang berperan besar dalam memberantas kemiskinan sebenarnya adalah masyarakatnya bukan pemerintahnya. Bisa dilihat dari pengusaha-pengusaha yang melakukan kegiatan sosial, begitu juga tumbuh subur organisasi-organisasi yang peduli dengan manusia.

Ya, untuk membuat lingkungan dan dunia ini lebih baik untuk ditinggali yang dibutuhkan adalah tangan-tangan kita yang hidup di dalamnya. Pemerintah akan membantu sesuai kapasitasnya namun hal tersebut semakin sulit dengan menurunnya solidaritas karena kemajuan teknologi itu sendiri.

Kita bisa lihat penyaluran kepedulian seringkali salah sasaran, bentuk kepedulian tidak akan bisa merubah apapun jika hanya dilakukan dalam bentuk memberi like atau share pada sosial media. Kita butuh tindakan nyata dan mengikis mindset yang salah tersebut.

http://4.bp.blogspot.com/_VqbVDVQM4MA/Sj0BMYeDj1I/AAAAAAAAAE0/oVoKSwLF8WU/s400/hand_heart_soap.jpg
Berikan sedikit kasihmu dan lihat perubahan hebat yang muncul pada mereka dan dirimu

Manusia sering merasa sulit untuk memberi kepada orang lain, ada sebuah pola pikir bahwa memberi itu selalu melulu soal uang. Sebenarnya tidak demikian, arti memberi sendiri adalah meringankan beban orang lain, walaupun uang membantu banyak hal tetapi ada hal-hal yang tidak bisa dibantu dengan uang kan?

Berpikir memberi selalu harus uang, selalu harus jumlah besar membuat orang berpikir aku akan memberi "Jika" aku sudah kaya, "Jika" sudah mapan. Kamu lihat tidak ada orang kaya yang kikir? Dia berpikir akan memberi juga "Jika" dia merasa kekayaannya sudah cukup, tapi apa benar pernah cukup?

Anda bisa melihat mana yang orang yang memiliki keinginan berbagi dan hanya ingin terlihat berbagi, terlihat baik. Ketika aku aktif dalam organisasi sosial, seringkali ketika kami mengumpulkan  dana untuk korban bencana atau sakit, kita dapat melihat mana yang akan benar-benar peduli atau tidak. Untuk mengalang dana yang besar, anda harus membuat acara yang besar juga. Di saat itu seringkali pengalangan dana dilakukan dengan cara presentasi, kita akan melihat ada dua tipe orang. Mereka sama-sama menangis dan tersentuh, bedanya yang pertama mereka ambil adalah tisu atau sapu tangan sementara yang lainnya segera mengambil dompet dan buku ceknya. Ini soal cara berpikir.

Ada juga orang yang enggan memberi karena takut memberi terlalu sedikit, misalnya lima ribu, seribu atau lima ratus rupiah. Padahal setiap rupiah sangat berarti, bukan soal nominal tetapi menunjukan rasa peduli anda. Manusia seperti ini juga sangat banyak, bayangkan jika ada satu juta orang yang berpikir seperti ini, andaikan mereka tidak merasa enggan, dan mengeluarkan uang seribu rupiah mereka. "Setiap rupiah bernilai." Maka yang terkumpul adalah satu miliar rupiah. Angka yang fantastis bukan?!

Mungkin anda berpikir bahwa saya bercanda, tidak sama sekali. Yang harus kita ingat adalah tidak ada namanya pemberian sia-sia, setiap kepedulian dan pemberian kita, sekecil apapun memiliki nilainya sendiri.

Anda bisa memberikan sangat banyak pada lingkungan anda, walaupun tidak memiliki sepeserpun uang, Ini sungguhan! Dengan tidak membuang sampah sembarang saja, anda sudah menunjukan kepedulian anda dan memberikan kita lingkungan yang lebih bersih. Bayangkan jika kita bersedia mengambil satu sampah yang dibuang sembarangan dan menempatkan pada tempatnya, jika sepuluh persen saja orang berpikir demikian maka dunia ini akan sangat bersih.

Kita juga bisa membersihkan sungai dari sampah, menanam pohon atau setidaknya tidak merusak alam juga adalah pemberian yang sangat berharga. Memberikan tempat duduk di bus, atau tidak merokok di tempat umum sudah memberikan sebuah kepedulian yang besar untuk lingkungan sekitar anda.

Yang paling penting dan dibutuhkan di dunia saat ini adalah memberi cinta, bukan cinta kepada pasangan tetapi cinta kepada sesama manusia. Membuat orang tersenyum dan tertawa adalah sebuah bentuk pemberian yang sangat indah dibandingkan memberikan rasa sakit, bahkan trauma pada mereka.

Pernahkan anda merasakan saat anda membuat orang lain bahagia, anda juga tertular kebahagiaan itu? :)

Ada satu video yang sangat menginspirasi bagiku, apa keuntungan terbesar bagi mereka yang mau peduli dan mau memberi? Mereka melihat dunia dengan cara yang berbeda, jika penasaran silahkan putar video dibawah ini sebagai penutup tulisan ini.

video

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)