Kamis, 11 Februari 2016

Percakapan Kecil dengan Seorang Kasir



Salah satu hal yang sangat kusenangi adalah berkomunikasi dengan orang lain, mengenal orang yang baru juga menyenangkan. Biasanya aku memulai percakapan disetiap kesempatan dengan seseorang yang baru kutemui, tidak jarang aku mendengar kisah yang menarik, seperti beberapa waktu yang lalu.

Saat itu aku sedang melakukan dinas luar kota, setelah seharian mengerjakan tugasku akhirnya aku bisa beristirahat di penginapan. Dari jendela kamarku, aku bisa melihat sebuah Alfamart tidak jauh dari tempatku menginap. Aku menjadi terpikir membeli beberapa hal, terutama cemilan yang bisa menemaniku menonton film malam itu.

Aku menganti pakaianku dan pergi ke sana, sebuah petir menyambar dengan suara yang membahana ke segala penjuru saat aku sedang menyebrang jalan.

Aku mempercepat laju langkahku, sesampainya di Alfamart aku segera mengambil barang-barang yang kuinginkan dan membawanya ke kasir. Sepertinya apa yang kupikirkan juga dipikirkan para pengunjung yang lain, mereka juga segera menyelesaikan belanjaan mereka dan terjadilah antrian yang cukup panjang.

Seolah belum cukup buruk, salah seorang ibu-ibu yang sedang mengantri memarahi sang kasir karena dia menilai kinerja si kasir terlalu lambat. Menurutku pribadi dia sudah bekerja dengan baik dan cekatan, hanya saja memang bekerja dibawah tekanan seperti itu tidak mudah.

Saat tiba giliran si Ibu galak, sang kasir masih tersenyum hangat. Aku bisa memperhatikannya dengan lebih jelas sekarang, usianya masih muda, sekitar 25-28, kemungkinan besar belum menikah dan tumbuh di keluarga yang baik. Melihat keuletan kerjanya akhirnya si Ibu ini luluh juga dan tersenyum.

Kini tiba giliran barang belanjaanku yang dihitung, saat itu juga hujan turun tiba-tiba dengan begitu derasnya tanpa diawali dengan hujan rintik-rintik.

Sang Kasir melihat keluar dan kemudian memandangiku dengan tatapan rasa bersalah, dia meminta maaf karena menurutnya itu salahnya.

Aku : "Hei, ini bukan salahmu dan aku tidak menyalahkanmu."
Dia : "Maaf Pak, jika saya kerja lebih cepat mungkin tidak begini."
Aku : "Lupakan itu, tidak masalah."

Aku membayar belanjaanku, dia sekali lagi meminta maaf saat aku membawa kantong belanjaanku menuju pintu. Aku kagum terhadap karakter yang demikian, apalagi di zaman seperti ini.

Begitu keluar dari mart, aku bisa merasakan angin yang begitu kencang diiringi dengan guyuran hujan yang begitu lebat. Aku berpikir sejenak lalu memutuskan untuk duduk menunggu hujan agak reda.

Sekitar 10 menit aku duduk di depan mart, tidak ada tanda-tanda hujan akan reda. Sang Kasir melangkah keluar dan membawa secangkir kopi hangat, memberikannya padaku.

Dia : "Mau nunggu di dalam Pak? Ini diminum kopinya biar hangat."
Aku : "Terima kasih.. Tidak apa-apa aku menikmati hujan seperti ini."
Dia : "Begitu ya Pak? Saya juga suka, rasanya damai dan tenang."
Aku : "Hei, siapa namanu? Kenalkan, aku Ron."
Dia : "Dimas (Nama sebenarnya) Pak."

Kami kemudian bercakap-cakap dan saling mengenal, Dimas memang lahir di kota itu, dia seorang Sarjana namun kesulitan mendapatkan kerja walaupun dengan gelarnya. Dia bangga bisa bekerja di Alfamart, baginya pekerjaan apapun harus dijalani dengan sepenuh hati maka kebaikan akan menghampiri dia.

Dimas kemudian menceritakan sebuah kisah yang menarik saat kutanya apakah dia memiliki pengalaman yang tak terlupakan selama bekerja disini?

Ada Pak, Kejadian itu masih begitu jelas dalam ingatan saya. Malam itu seperti malam-malam lainnya, hanya saja malam itu sepi pembeli mungkin itu sebabnya saya bisa mengingatnya dengan jelas. 
 
Ada seorang gadis cantik yang masuk ke toko, dia terlihat lesu dan murung namun masih terlihat cantik. Dia mengambil beberapa barang lalu membawanya ke kasir, ternyata yang dia ambil adalah racun tikus dan obat nyamuk. Pikiran saya langsung melayang kemana-mana, mata gadis itu menatap saya dengan rasa gelisah.

Saya tidak ingat pastinya berapa lama kami saling bertatapan, lalu terucap dari mulut saya, "Dik, belum terlambat. Kamu masih bisa bahagia." Gadis itu nampak terkejut dan mundur dua langkah, lalu melihat keluar. Saya ikut melihat keluar dan melihat seorang pria dengan jaket kulit sedang menunggunya. Gadis itu kemudian menatap saya lagi, kemudian mengangguk, "Mungkin belum terlambat."

Akhirnya dia keluar tanpa membeli apa-apa, saat itu saya sangat bersyukur sampai saya mendengar berita keesokan harinya. Tidak jauh dari jalan ini terjadi sebuah kecelakaan bermotor, satu orang tewas sementara yang lain dilarikan ke rumah sakit. Gadis itu langsung terbayang dalam pikiranku, saya berdoa andai memang gadis itu yang kecelakaan, dialah yang dibawa ke rumah sakit.

Beberapa hari kemudian gadis itu datang lagi, jalannya pincang, tangannya diperban dan wajahnya juga ada beberapa luka. Dia langsung menghampiri saya dan berucap, "Terima kasih, memang belum terlambat ternyata." Gadis itu lalu tersenyum, senyumnya tidak akan pernah kulupakan..

Dimas menghentikan ceritanya sejenak, wajahnya menjadi pucat.

Aku : "Kenapa Dimas?"
Dia : "Sampai hari ini aku masih sering terpikir, Bagaimana jika doaku saat itu salah?"

Aku langsung merinding, tapi mungkin itu karena cuaca yang dingin. Rekan kerjaku kemudian menjemputku karena aku terlalu lama tidak kembali ke penginapan. Aku meminta nomor Dimas, aku pastikan ketika kami membuka kantor cabang di kota itu, dia orang yang kubutuhkan dalam teamku.

Kisahnya juga telah menjadi salah satu hal yang tak akan terlupa bagiku, bagaimana dengan kalian?

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)