Jumat, 12 Februari 2016

Menjadi Sebuah Keajaiban

Keajaiban seringkali lebih sederhana daripada yang kita bayangkan

Saat aku membuka salah satu buku catatanku, aku mengingat sebuah tulisan yang kubuat setelah diskusi menarik bersama seorang sahabat. Sebuah diskusi yang diawali pertanyaan sederhana, Apakah sebuah keajaiban itu?

Pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan yang paling menarik untuk didiskusikan, Kenapa? karena pendapat setiap orang terhadap keajaiban tentu berbeda-beda, jika 10 orang ditanya maka akan muncul 10 jawaban yang berbeda.

Aku masih ingat dengan jelas wajah penuh semangat sahabatku, di tahun 2013 akhir itu. Di sebuah cafe saat hujan gerimis turun membasahi jalanan dan kota yang sudah mulai berdebu.

Aku meneguk milk tea pesananku setelah mendengar pertanyaan itu, dia masih sangat antusias dalam keheningan di antara kami. "Menurut kamu sendiri, keajaiban itu seperti apa?" Kini giliran dia yang meluruskan posisi duduknya dan berpikir dalam-dalam.

Selang beberapa menit dia menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya, salah satunya adalah ketika dia berhasil lolos dari kecelakaan maut di dalam pesawat terbang-Walaupun sudah kujelaskan berkali-kali bahwa itu jauh dari kecelakaan maut, itu hanyalah Clear Turbulence- dan hal-hal lain yang menurutnya sebuah keajaiban yang terjadi dalam hidupnya. Seperti ketika dia mempelajari suatu hal yang rasanya sangat sulit untuk bisa tetapi akhirnya dia bisa, itu sebuah keajaiban baginya. Manusia lain menyebutnya pengalaman dan proses belajar.

Dia juga mengatakan bahwa kekuatan-kekuatan adidaya, seperti dapat terbang, kebal dan mampu mengeluarkan api dari mulut adalah keajaiban. Setelah puas menjelaskan keajaiban menurut versinya, dia kembali bertanya kepadaku, Jadi Apakah sebuah keajaiban itu?

Aku meminum milk teaku yang tersisa, kemudian menjelaskan padanya di saat hujan semakin deras. 

Menurutku, Keajaiban itu bukan berjalan di atas air, untuk apa? Kan sudah ada kapal. Bukan juga mampu terbang tinggi, untuk apa? Kan sudah ada pesawat. Keajaiban seringkali hal-hal yang kita tidak sadari begitu ajaibnya dia, seperti kehidupan. Kita masih bisa bernafas hari ini, hidup dengan baik bukankah itu keajaiban? Ketika yang lainnya kelaparan dan habis masa hidupnya.

Ketika seseorang masih mau memberi dan peduli kepada orang saat dirinya sendiri sedang kekurangan, ketika masih menjalani hari dengan senyuman tulus-bukan Eccedentesiast- walau dipenuhi masalah dalam hidupnya, bagiku itulah keajaiban.

Jawabanku membuat sahabatku kebingungan. Kami hening cukup lama, hanya ada suara hujan yang deras diantara kami. Ya, memang sulit dipercaya tetapi ketika kita melihat atau merasakannya, kita bisa mengetahui bahwa itu benar.

Seseorang yang bangun terlambat tetapi bisa tepat waktu sampai di kantor, atau seorang Ibu tunggal yang dapat hadir di acara sekolah anaknya saat dia sibuk bekerja. Bukankah itu keajaiban?

Jika kita mampu melihat itu sebagai keajaiban, maka kita sendiri bisa menjadi sebuah keajaiban bagi diri sendiri maupun orang lain. Caranya sederhana, sudah cukuplah memohon berkah untuk diri anda sendiri, jadilah berkah untuk sesama maka berkah akan datang pada anda dengan sendirinya.

Tidak perlu meminta perdamaian dunia dalam doa anda, cukup berdamai dengan diri sendiri dan lingkungan anda. Ketika orang lain merasakan berkah dari anda, dan mulai berdamai dengan dirinya maka perdamaian dunia akhirnya akan tercipta, sebuah keajaiban besar itu dimulai dari keajaiban-keajaiban kecil, dan anda dapat menjadi bagian darinya.

2 komentar:

  1. Wah Ron udah mulai rutin nge-blog lagi ya?

    "Caranya sederhana, sudah cukuplah memohon berkah untuk diri anda sendiri, jadilah berkah untuk sesama maka berkah akan datang pada anda dengan sendirinya."

    Keren. Setuju banget sama kata-katanya!

    BalasHapus
  2. Iya diusahakan rutin lagi sist :D

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)