Rabu, 18 November 2015

My (Not So) Lovely Travel 2

Hidup penuh dengan kejutan, buat itu jadi kejutan yang indah

Selama 40 menit, aku terus mendengar pertanyaan dengan awal yang sama yaitu Kamu ingat?

"Kamu ingat kamu suka bawa martabak manis ke rumah?"
"Kamu ingat kamu pernah ikut mancing sama om?"
"Kamu ingat waktu tante beliin kamu baju? Masih ada kan bajunya?"
"Kamu ingat, kamu ingat, kamu ingat..."

Beberapa kali rasanya ingin buka jendela lalu loncat, sayang lubang jendelanya kekecilan. Itu adalah 40 menit terlama dalam hidupku.

Ketika pesawat akhirnya tiba di Bandara Supadio, Pontianak. Rasanya ingin segera turun dengan cepat, pada saat buru-buru berdiri pengait celanaku putus. Petanda yang buruk atau tanda berat badanku naik lagi, tapi yang terpenting itu membuatku harus turun paling akhir. Terjebaklah aku selama 10 menit lagi.

Sepuluh menit ini kemudian dipakai untuk bertukar nomor telepon dan berbasa basi terakhir, kenyataannya sampai hari ini kami tidak berhubungan lagi.

Setelah turun, aku harus mengambil bagasiku sebelum bisa menukar celanaku. Selama menunggu tas yang berisi celanaku aku harus memegangnya dengan baik atau akan jadi masalah. Segera setelah kudapat tas itu, aku mengambil satu celana dan pergi ke wc bandara.

Ada satu hal yang aku heran, di mall, rumah sakit, hotel atau bandara seperti ini selalu saja ada orang yang menggunakan toilet tanpa menyiramnya. Mengingat saat itu saja membuatku sedikit mual. Entah memang ingin memamerkan kepada orang yang berikutnya masuk atau tidak tahu caranya melakukan flush.

Kami kemudian memesan tiket pesawat menuju Jakarta langsung di bandara, aku memesan untuk penerbangan jam 10.40 saat itu masih jam 8.30 sehingga kami harus menunggu cukup lama. Kami memasukan barang kami kembali ke bagasi lalu memasuki ruang tunggu.

Di ruang tunggu, suasana tenang dan tidak begitu ramai orang. Aku menghabiskan waktu dengan membaca dan makan ayam goreng. Sekitar jam 10.50 kami dipersilahkan memasuki pesawat karena banyak bangku kosong maka aku pindah ke kursi paling belakang dan menikmati 3 kursi sendirian. Sudah lama aku tidak berpergian dengan Garuda Indonesia, jadi aku berharap banyak dalam perjalanan ini.

Pesawat mulai bergerak, layar mulai menunjukan manual keselamatan, aku segera mengencangkan sabuk pengaman. Gerakan pesawat sangat mulus dan suaranya sangat halus, aku memejamkan mataku untuk istirahat karena aku tidak tidur sejak tadi malam.

Tidak lama suara mesin berhenti dan getaranpun tidak terasa, yang kupikirkan saat itu adalah, "Wah, Garuda Indonesia sekarang hebat, take-offnya tidak ada getaran dan suara mesinnya sama sekali tak terdengar." 

Aku memejamkan mata cukup lama, sampai kurasakan ada getaran lagi. Kubuka mataku dan kulihat pesawat berada di landasan pacu, "Gila, landingnya pun tidak terasa, tidak heran tiketnya mahal, eh tunggu.. ini.."

Aku lalu menyadari bahwa kami masih berada di Bandara yang sama, kulihat waktu menunjukan pukul 11.50, jadi daritadi kami belum berangkat sama sekali! Pilot mengumumkan ada kendala mesin dan penerbangan diundur menjadi jam 13.00

Maka kami kembali ke ruang tunggu, melihat kelompok yang harusnya berangkat setelah kami justru berangkat lebih dulu. Sekitar pukul 12.50 pihak Garuda Indonesia membagikan makan siang, padahal 10 menit lagi kami seharusnya terbang. Aku segera ingin menganti penerbanganku tetapi Ayahku melarang, tunggu saja katanya. Saat kami sedang makan, diumumkanlah bahwa penerbangan kami dibatalkan.

Seluruh penumpang bersorak kecewa dan marah, kami kembali ke counter Garuda untuk mencari kejelasan apakah tiket kami bisa dipindah. Sebagian besar penumpang dipindahkan ke jam 15.40 sementara aku mendapat pesawat 17.25, masing-masing dari kami juga mendapat ganti rugi Voucher senilai Rp. 300.000 sebagai permintaan maaf pembatalan penerbangan yang bisa dicairkan di Bank Mandiri.

Aku harus menunggu lagi, rencana yang sudah matang selama 7 hari menjadi rusak hanya karena delay pesawat. Untuk menghindari hal seperti inilah aku memilih Garuda Indonesia, konyolnya malah seperti ini, lagi-lagi Hukum Murphy.

Yang lebih luar biasa, sampai jam 18.00 belum ada tanda-tanda kami akan dipersilahkan masuk ke dalam pesawat. Ketika aku bertanya baik-baik ke pihak Garuda, pegawainya malah menjawab dengan ketus. Kita sebut saja petugas si A.

Ron : "Selamat sore, maaf saya mau nanya ini sudah jam 6, kenapa kami belum naik pesawat ya? Apa ada masalah?"
Si A : "Di tunggu saja Pak, sabar sedikit kenapa?"
Ron : "Saya disini dari jam 8 pagi, apa saya belum cukup bersabar?"
Si A : "Ya pesawatnya belum bisa terbang gimana Pak?"
Ron : "Ya saya kan minta penjelasan, kamu saya tanya baik-baik malah jawab seperti ini."
Si A : *ketawa kecil*

Ya, jadilah si A ini aku teriaki sampai pucat. Mungkin dia berpikir karena aku sopan pertama kali maka aku tidak berani, petugas keamaan bandara sempat mendekat tetapi berhenti setelah kupelototi. Si A lalu berlari masuk untuk mencari penjelasan, sekitar 10 menit kemudian kami dipersilahkan masuk ke pesawat.

Saat aku duduk di pesawat waktu sudah menunjukan pukul 18.40 dan kami tidak langsung berangkat. Dikatakan alasannya karena cuaca buruk. Seorang pramugari langsung menghampiriku untuk memindahkanku ke tempat duduk paling belakang, aku mendapat 3 kursi untuk diriku sendiri. Pramugari juga langsung memberikanku minuman, padahal penumpang lain tidak ditawari. Mungkin karena insiden sebelumnya.

Aku tidak ingat kapan kami tepatnya berangkat namun aku keluar membawa bagasiku dari Soekarno Hatta jam 21.20 dan tiba di tempat keluargaku jam sekitar jam 22.00

Selama menunggu dari jam 13.00 sampai 18.00, ada beberapa kejadian yang menarik. Aku berkenalan dengan seorang bapak yang kupikir sedang bersama anaknya. Bapak ini seumuran dengan ayahku sementara wanita disampingnya paling tua seumur denganku, belakangan aku baru tahu bahwa wanita itu adalah istri mudanya.

Ada juga seorang bapak lain yang duduk dan berbincang denganku katanya untuk menghindari dekat dengan 4 wanita yang saling memandang tidak suka, setelah berbincang cukup lama aku baru tahu bahwa 4 wanita tersebut adalah istrinya.

Ada juga seorang nenek yang ngotot mengatakan bahwa aku adalah cucunya, sementara ketika cucunya datang dia malah tak mengenalinya. Bukan hanya aku tidak mirip dengan cucu aslinya, jenis kelamin kami pun berbeda.

Sebenarnya masih ada dua bagian lagi yang ingin kutulis dari perjalanan ini, tetapi kuputuskan untuk tidak menulisnya. Aku memilih untuk menulis kisah Ryu sesuai target bulan ini, ada beberapa cerita yang sudah kucatat di buku sakuku, dan akan kutulis disini dalam waktu dekat.

Kuharap jika kalian pergi berlibur tidak perlu merasakan apa yang kurasakan, apalagi musim liburan sebentar lagi tiba. :)

I'm back!

6 komentar:

  1. :D
    Setidaknya setelah perjalanan itu ada hal-hal baru yang bisa bikin senyum-senyum kalau diingat-ingat lagi...
    Tapi nanti Ron ya...

    BalasHapus
  2. Iya, nanti bisa jadi cerita yang menarik saat minum teh dengan teman. hehe

    BalasHapus
  3. Buset dah, dari jam 10.40 delay sampe malem banget, petugasnya ga ramah pula. Kalo gw digituin, gw udah mencak-mencak di bandara dan gw ga akan make Garuda Indonesia lagi seumur hidup.

    BalasHapus
  4. Untungnya sih waktu dari Jakarta ke Medan pelayanannya bagus, jadi anggap impas lah. Hehe

    Ya mungkin pelayanannya gitu karena kami dapat kompensasi 300ribu, jadi dia pikir kami pelanggan murah :p

    BalasHapus
  5. Pengalaman berharga ya, Ron. Jadi ada banyak cerita. Heran deh sama orang yang kalau diomongin baik-baik malah seenaknya, udah dibentak baru deh. Hhh. Katanya pengen dihargai, tapi nggak menghargai orang lain. Ah, lupakan saja, mungkin si A sedang lelah... :P

    BalasHapus
  6. Hm.. Mungkin karena aku duduk di kelas ekonomi ya :p

    Soalnya kelas bisnisnya udah full, cuma berapa seat aja gitu atau memang si A sudah lelah :p

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)