Kamis, 26 November 2015

Friday Night Tales : Sumur Permohonan





GOBLOK, GOBLOK, GOBLOK

Itulah aku.

Bodohnya aku. Sore itu mengajak putriku jalan-jalan ke hutan. Namun cuaca saat itu sangat tenang dan aku hanya ingin menikmatinya berdua dengan anakku.

Kamu menapaki jalan setapak dengan rerumputan lalu ia dengan imajinasi dan rasa ingin tahunya yang tinggi menanyakan banyak hal. Apakah ada peri di hutan ini? Apakah ada unicorn dan kurcaci tinggal di hutan ini? Aku hanya tertawa, mungkin aku terlalu banyak menceritakan dongeng kepadanya.

Tak ada yang salah dengan mengajaknya berjalan-jalan di hutan. Namun kebodohanku adalah mengajaknya ke sumur itu. Sebuah sumur permohonan tua, dimana orang-orang kerap mengucapkan permohonan sambil melemparkan satu koin penny ke dalamnya.

Ia langsung terpesona dengan sumur itu.

“Apa Mama pernah membuat permohonan di sumur ini?”

“Tentu Sayang. Mama dulu membuat dua permohonan. Pertama Mama meminta supaya kamu lahir dan di sinilah engkau. Dan itu hanya membutuhkan ongkos satu penny.”

Dia terkikik.

“Dan apa keinginan keduanya?”

“Supaya kamu ada lagi.”

“Tapi kan aku sudah ada di sini?”

Aku tersenyum, “Ya, Mama hanya tak ingin kehilanganmu. Mama membuat keinginan kedua ketika kau masih bayi. Saat itu kau sakit panas dan dokter tak bisa menyembuhkanmu. Mama menjatuhkan satu penny lagi dan kaupun sembuh. Apa kau lega Mama membuat permintaan itu?”

“Ya.” katanya, “Apa Mama pernah membuat permohonan untuk Ayah juga?”

Aku terdiam. Ia mengerti ayahnya sudah meninggal. Hanya ia tak pernah tahu sebabnya.

Saat itu aku sungguh dibutakan. Aku jatuh cinta dengan laki-laki lain, namun aku sudah bersuami. Akhirnya hanya itu satu-satunya jalan.

Aku menjatuhkan satu penny lagi ke sumur, meminta agar nyawanya diambil.

Dan benar, ia mengalami kecelakaan mobil malam itu, meninggalkan kami berdua dan Jake, yang dengan senang hati menikahiku.

“Tidak, Mama tak pernah membuat permohonan untuk ayahmu. Lagipula, ini hanya sumur tua biasa.”

Dan malam itu, terdengar suara ketukan di pintuku. Ada suara geraman yang terdengar seperti memanggil namaku. Aku bisa mencium bau busuk yang amat mengerikan.

Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah. Dan dari luar, sebuah tangan yang tinggal tulang belulang dengan daging busuk masih menggantung, mencoba menggapai-gapai, ingin menyeret sisa tubuhnya masuk.

GOBLOK, GOBLOK, GOBLOK!

Apa yang kupikirkan mengajak putriku ke sana?

Apa lagi yang bisa diminta seorang anak gadis yang merindukan ayahnya di sebuah sumur permohonan?

1 komentar:

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)