Selasa, 06 Oktober 2015

Dilema Babysitter



Saat membuka facebook di sore hari, terlihat ada sebuah postingan yang ramai dikomentari oleh teman-teman di facebook. Dalam postingan itu terlihat beberapa buah foto, satu foto menunjukan seorang wanita paruh baya yang tersenyum ramah dengan pakaian perawat berwarna merah muda.

Foto-foto lain yang menarik perhatianku, foto yang menunjukan seorang balita berumur sekitar 3-4 tahun memiliki memar-memar dibagian tubuhnya.

Yang membuat lebih tertarik adalah catatan dibawahnya, menjelaskan bahwa wanita di foto tersebut adalah babysitter, anak mereka dipukuli dan babysitter itu membawa kabur perhiasan dan sebuah tablet.

Ironisnya, dari foto tersebut terlihat si anak belum mendapat perawatan dan latar masih dalam sebuah kamar tidur, si anak dalam kondisi tidak menangis berarti dia sudah dididik oleh siapapun pelakunya untuk tidak menangis walaupun sakit. Beberapa bekas luka sudah terlihat sebagai luka lama berumur 2 minggu sampai 1 bulan. Luka sebanyak itu tidak mungkin dilakukan dalam satu hari atau si anak pasti sudah tidak bernyawa.

Di kota tempatku tinggal, jasa babysitter seolah menjadi sebuah kebutuhan mendasar bagi sekelompok kalangan yang menikah, terutama menikah muda. Sebagian besar temanku yang sudah menikah juga menggunakan jasa babysitter bahkan beberapa diantaranya memintaku untuk melakukan tes psikologis pada babysitter mereka.

Bukan pertama kali kejadian seperti ini terjadi, sudah berulang kali di kota yang sama ini.

Aku sendiri bukan orang yang pro penggunaan babysitter, terutama untuk kalangan tertentu. Aku masih bisa mengerti jika menggunakan jasa ini karena sang ibu maupun ayah memiliki karir yang mereka perjuangkan tetapi mayoritas pengguna jasa ini yang kukenal dilatarbelakangi tidak bisa, tidak mau belajar dan tidak peduli terhadap anak.

Ya, ibu-ibu muda ini tidak bekerja atau berkarir, mereka menganggap mengurus anak bukan urusan mereka. Tidak heran salah satu kenalanku memiliki anak yang asing terhadap Ibunya, namun si Ibu tidak peduli, dia lebih suka jalan-jalan keluar negeri dan berbelanja.

Hal-hal seperti itulah yang membuat hal seperti ini terulang kembali. Andaikan sang Ibu mengantikan baju anaknya atau memandikan anaknya, mereka akan segera tahu jika anak mereka terluka. Jika mereka cukup dekat dengan anak mereka, pasti mereka segera melaporkan kelakuan pengasuh mereka.

Namun yang selalu disalahkan justru babysitternya, inti masalahnya bukan disitu. Hal tersebut seperti saling menyalahkan ketika pencuri masuk ke rumah,seolah-olah si pencuri tidak ada salah.

Aku teringat Master Dedy Corbuzier pernah mengatakan, "Jika anda punya jam senilai 50 juta atau 100 juta, berani tidak anda titipkan pada pengasuh anda? Jika jawaban anda tidak, kenapa berani menitipkan anak anda?"

Memakai jasa pengasuh bukanlah hal yang salah, tetapi jangan jadikan itu alasan untuk melupakan peran sebagai orang tua sehingga masalah seperti ini tidak terjadi lagi. Semoga masalah seperti ini kedepannya dapat terus berkurang.

2 komentar:

  1. Mirrriss membacanya! Kasihan... mereka tidak tau bahwa menyentuh dan membelai anak akan berpengaruh dan jd kenangan indah saat mrk dewasa. Apalagi yang terindah selain menikmati cinta dari anak setelah mrk dewasa? Uang, travelling, jadi kecil nilainya dibanding kehidupan kita penuh arti dimata anak....Semoga ortu yg diceritakan bisa berubah cara fikirnya, kelak.

    BalasHapus
  2. @Kak Tia : Iya Kak, itulah yang mungkin belum terpikir sama mereka. Ya semoga aja bisa berubah pola pikirnya.

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)