Senin, 07 September 2015

Kamu Gendut Ya!



Dalam masyarakat modern kala ini, penyebutan bentuk fisik seseorang seringkali menjadi hal yang sensitif. Berbagai bahasa halus dari penyebutan fisik sering digunakan, hal ini juga terjadi di Indonesia. Untuk orang gendut sering diganti tambun, subur, makmur, dan lainnya.

Bisa dikatakan 90% orang gendut akan marah jika dibilang gendut, 8% lainnya akan langsung menyerangmu secara fisik dan 1,9% mengutukmu dalam hati. 0,1% yang akan menerima itu dengan senyuman lebar yang tulus, jadi mulai sekarang kau tau berapa besar kemungkinanmu selamat setelah mengatakan hal tersebut.

Tulisan ini bukan tentang itu, tetapi ditujukan pada orang-orang sepertiku yang memiliki masalah berat badan atau merasa seperti itu. Aku akan mengisahkan sebuah pengalamanku.

Suatu hari aku diajak temanku untuk berkenalan dengan sepupunya yang seorang gadis cantik, dia berniat menjodohkanku dengannya. Pria normal akan berdandan serapi mungkin dan membuat tubuhnya seharum mungkin, sayangnya otakku yang sedikit miring ke kiri ini membuatku pergi dengan pakaian seadanya dan bersih-bersih seadanya.

Rambutku saat itu masih panjang sehingga terlihat berantakan, aku dan temanku datang lebih dulu ke sebuah restoran dan dia jelas panik melihat penampilanku. Dia memintaku segera merapikan diri tetapi terlambat, sepupunya sudah keburu datang.

Ketika dia datang, gadis ini benar-benar terlihat terkejut. Dia sepertinya sudah diberitau sebelumnya bagaimana fisikku atau bahkan melihat fotoku, matanya melihatku dari kepala hingga kaki. Temanku terlihat cemas, sampai akhirnya gadis itu membuka mulutnya, "Kamu gendut ya."

Mendengar itu wajah temanku langsung pucat, dia tau tajamnya mulutku dan jika kami beradu mulut pasti jadi tontonan publik. "Hanya itu?" tanyaku. Gadis itu melihat mataku dan mengangguk pelan, sedikit takut.

Aku mengulurkan tanganku, "Aku yakin kita akan jadi sahabat yang baik." Sebut saja namanya Grace, kami berbincang seru hari itu dan setelah 7 tahun berlalu, kami masih sahabat yang baik.

Beberapa waktu yang lalu dia baru saja menikah dengan pria yang dikenalnya 8 bulan, ketika dia menelponku suaminya juga menyapaku dan mengajakku berkenalan. Suaminya bercerita tentang pertemuan pertamaku dengan istrinya, dia menceritakan reaksiku saat itu dan ingin menanyakan alasan aku bisa yakin bahwa kami akan jadi sahabat baik dan terbukti benar.

Pertama, aku mengerti bahwa kebanyakan manusia malas berpikir sehingga membuat mereka lebih memilih menghakimi. Melihat penampilanku yang berantakan dan hanya menghakimi fisikku adalah bukti bahwa dia termasuk orang baik. Jangan berharap orang berhenti menghakimimu, setidaknya mereka melakukannya di dalam hati atau lebih buruk di belakangmu, hargai mereka yang jujur melakukannya di depanmu.

Kedua, Kita harus memahami bahwa sedikit sekali orang yang pandai berkomunikasi. Kita menyadari pentingnya ilmu komunikasi, tetapi sangat sedikit yang mempelajarinya. Kasus yang lebih parah bisa dilihat pada tulisanku Pentingnya Ilmu Komunikasi dan Sosial. Memahami hal ini berarti mengerti bahwa miskomunikasi masih sering terjadi dan penyampaian dengan cara tidak menyenangkan juga banyak terjadi.

Ketiga, Tidak perlu merasa terintimidasi dengan bentuk fisik kita dinilai seseorang. Jika kalian tidak nyaman maka berubahlah menjadi bentuk yang kalian nyaman, jika kalian sudah nyaman maka tidak perlu khawatir terhadap penilaian orang lain. Khususnya pria, karena pria prenagen saat ini sedang naik harga pasarnya, haha.

Ketika kita tidak senang dihakimi oleh orang lain, maka kalian akan mulai menghakimi orang lain. Kalian menghakimi bahwa orang itu suka menghakimi orang lain, padahal bisa jadi itu pertama kali dia melakukannya. 

Ketika Grace menghakimi atau menilaiku sebagai pria yang gendut dan harus kuakui aku juga merasakan hal yang sama, maka aku menilainya bahwa dia wanita yang berani menyuarakan pendapatnya dan jujur, hanya cara menyampaikannya mungkin tidak enak didengar oleh kebanyakan orang. Hal ini membuatku berpikir dia pribadi yang menyenangkan dan akan bisa akrab denganku, memang akhirnya semua itu terbukti.

Jadi sudah saatnya kita menambah angka 0,1% ini bukan? Untuk mengurangi pembunuhan yang dilakukan oleh orang gendut. Salam Subur!

2 komentar:

  1. :) kalau cowok aja sensi dibilang gendut, apalagi cewek ya? :D

    BalasHapus
  2. Kalau ada cowo yang berani bilang gitu ke cewe siap-siap aja pulang tinggal nama tuh, Haha

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)