Kamis, 14 Mei 2015

Siapa Diriku? Perjalanan Menemukan Jati Diri

Manusia itu sederhana, Kamu adalah apa yang kamu lakukan berulang-ulang.
- Aristoteles

Dalam hidupku, aku menemukan banyak orang yang tersesat dalam hidupnya. Mereka selalu mencari jati dirinya, atau tujuan hidupnya.

Aku pun pernah dalam masa pencarianku, aku beruntung menemukannya di usia muda, banyak orang yang tidak menemukan hingga akhir hidupnya.

Apa Tujuan Hidupku? Apa Bakatku? Masa depanku seperti apa? Siapa sebenarnya aku? Itulah pertanyaan yang sering ditanyakan mereka yang mencari jati diri.

Seringkali pencarian itu memakan waktu yang lama, bahkan sangat lama.  Banyak orang yang putus asa, merasa kosong bahkan tidak sedikit yang mengakhiri hidupnya dalam pencariannya.

Dulu aku memiliki seorang teman berbagi yang baik, dia seringkali berbagi pengalamannya denganku. Saat itu kami sama-sama melakukan pencarian jati diri tetapi dia punya satu masalah yang menghambatnya. Dia tidak mau mendengar sesuatu yang kau katakan padanya jika itu bukan pengalaman pribadimu.

"Aku ini tidak suka baca buku, aku tidak butuh teori yang penting praktik!" Ya benar, praktik memang penting tetapi teori juga tidak kalah pentingnya. Melakukan sesuatu dengan memiliki dasar akan lebih aman daripada membabi buta mencobanya. Ibarat kita menyeberangi lautan, tanpa kompas, keahlian berlayar dan tidak bisa berenang adalah hal yang berbahaya.

Memang buruk memiliki keahlian dan wawasan berlayar tetapi tidak pernah berlayar, tetapi lebih buruk lagi berlayar tanpanya. Seringkali nyawa jadi taruhannya, itulah gunanya kita sekolah bukan?

Banyak kok orang tidak sekolah yang sukses! Benar, tetapi lebih banyak lagi yang tidak sukses karena tidak sekolah. Begitu juga dalam mencari jawaban perjalananmu, tidak ada salahnya berbagi dan mendengarkan orang lain.

Melihat kondisi temanku, akhirnya aku memilih lebih banyak mempraktikan teori yang telah kupelajari tetapi kesempatan untuk praktik dan belajar teori tentu tidak sebanding. Ketika aku mulai melangkah lebih jauh dalam perjalanku, dia justru jalan ditempat. Ketika aku berbagi pengalamanku, dia malah emosi dan mengatakan, "Oke, kamu sudah praktik tapi praktik kamu tuh segini (membuat genstur ukuran kecil) sementara teori kamu segini (membuat gestur ukuran besar) mending kalau udah praktik semua baru berbagi!" itulah hari terakhir kami berbagi perjalanan kami. Tidak mungkin aku mempraktikan semua teoriku kecuali aku tidak mempelajari teori baru sama sekali.

Menemukan jati diri seringkali membuatmu frustasi, ketika melihat orang melangkah lebih baik kamu bisa jadi kesal atau iri. Bukankah orang yang bijak adalah yang belajar dari kesalahan orang lain? Begitu juga ilmu, bisa dipelajari dari orang lain.

Menemukan tujuan hidup, bakat, masa depan serta jati diri setiap orang memang perlu cara yang berbeda tetapi tidak ada yang mengatakan kamu harus melakukan perjalanan itu sendiri.

Tujuan hidup setiap orang, seringkali jika tidak selalu, akan melibatkan orang lain di dalamnya. Demi orang lain.

Bakat seseorang seringkali disadari orang lain dahulu sebelum dirinya sendiri, karena kita sulit menilai secara objektif diri kita sendiri. Pendapat orang lain akan menjadi penting dalam menemukannya.

Masa depanmu adalah apa yang kamu lakukan saat ini, dan dengan siapa kamu bersosial dan berhubungan.

Jati diri? Seperti yang disampaikan di awal, sederhana bahwa kamu adalah apa yang kamu lakukan berulang-ulang. Kamu ingin menjadi seperti apa? siapa? kamu yang menentukan dengan perbuatanmu sendiri. 

Semoga perjalanmu menyenangkan, dan segera menemukan apa yang kamu cari. :)

1 komentar:

  1. Amiin...semoga yang mendoakan mendapat lebih dari yang didoakan. :)

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)