Minggu, 17 Mei 2015

Kisah Bola Hitam Putih

http://2.bp.blogspot.com/_B2H2Ivw9tsE/TVKHTx1KM5I/AAAAAAAAAK0/WWSkrfhS1vM/s1600/hitamputih.jpg 
Setiap Hal terjadi karena sebuah alasan, Bagian sulitnya mencari tau alasan tersebut.


Ini adalah sebuah kisah yang saya tulis sekitar tahun 2008, berada di tiga blog yang pernah kubuat. Kisah ini ternyata menjadi populer di tahun 2009, Mengapa demikian? Silahkan baca sendiri.



Awal kisah dimulai, Seorang anak pertama pria lahir kemudian ditinggal mati oleh Ibunya. Sang Ayah begitu merasa kehilangan istri yang sangat di cintainya. Untuk mengusir rasa kehilangannya, Sang Ayahpun menjadi sangat gila berkerja (Workaholic). Hal itu tidak mengurangi rasa sayang sang Ayah kepada anak tunggalnya. Karena Sang Ayah memutuskan tidak menikah lagi, maka anak ini akhirnya tumbuh besar dengan pengasuh. Anak Pria ini tumbuh menjadi pria yang lembut dan cerdas.
Ketika memasuki Taman Kanak-Kanak, teman-temannya sudah memiliki sepeda sendiri. Sedangkan dia masih berjalan kaki, itu membuat pengasuhnya mengadu kepada Ayahnya. "Pak, teman-teman nak Iwan sudah pada punya sepeda, tapi dia masih berjalan kaki." Sang Ayah berpikir, sungguh memalukan. Sekarang dia telah menjadi Pengusaha sukses dengan perusahaan dimana-mana, namun anaknya malah kekurangan. Dia pun memanggil si Anak. " Anakku, kamu ingin sepeda yang seperti apa?", Si Anak kemudian menjawab dengan lugas, " Tidak perlu ayah, jika ayah ingin membelikan sesuatu. Belikanlah aku sebuah bola hitam, dan sebuah bola putih." Sang Ayah pun bingung dan bertanya kenapa Anaknya meminta hal itu, Anak pun menjawab, " Saya tidak perlu menjelaskan, namun jika ayah mau membelikan. Hanya itu yang kuinginkan." Sang Ayah tidak pernah berbicara dengan anaknya, karena itu dia menerima keinginan anaknya. Diapun akhirnya membelikan Sepeda terbaik saat itu, dan juga Sepasang Bola Hitam dan Putih.
Waktu terus berjalan, akhirnya Sang Anak memasuki Sekolah Dasar. Saat itu permainan sepatu roda dikalangan Anak-Anak sedang ngetrend. Sang Anak setiap sore hanya duduk saja di Rumah, sepedanya hanya diletakan saja, karena sudah tidak musimnya pakai sepeda. Melihat hal itu, pengasuhnya kembali melaporkan kepada Ayahnya. Sang Anak dipanggil lagi. Ayahnya pun bertanya, " Kamu beberapa waktu murung terus, Kamu ingin dibelikan Sepatu Roda? Kenapa tidak kamu sampaikan? Pasti Ayah berikan kalau hanya sepatu Roda." Anakpun mengeleng-geleng dan berkata, " Ayah sebaiknya membelikanku Bola Hitam dan Putih saja, yang lama sudah rusak dan lagipula bola lebih murah." Ayahnya pun nampak kesal, dia merasa anaknya meremehkan kemampuannya. Kemudian besoknya sudah, Sepatu Roda terbaik sudah ada bersama sepasang Bola Hitam dan Putih.
Tidak terasa sudah memasuki masa SMP. Cerita sama berulang, ketika anak lain sedang asik bermain dengan Handphone canggih mereka, Anak ini lebih suka menghabiskan waktunya dengan bermain sepatu roda. Sungguh Setia dia kepada sepatu rodanya. Sepulangnya dari luar negeri, Ayahnya terkejut melihat kelakuan anaknya, yang ternyata belum memiliki Handphone canggih. Diapun berpikir, punya rumah begitu besar, perusahaan dimana-mana, sering ke luar negeri, tapi anaknya ketinggalan zaman. Ketika anaknya pulang dari sekolah dia melihat ada sebuah kotak berisi handphone canggih termahal saat itu, dan sebuah kertas catatan : " Biar kamu tidak malu", Besoknya si Anak mengirim kertas catatan balasan untuk ayahnya di meja kerja bertuliskan : " Kok tidak ada bola hitam putih? Aku lebih suka yang itu." Sang Ayah membacanya kesal setengah mati dan bingung. Apa sih Specialnya Bola Hitam Putih itu? Bisa buat dia Keren dan Terkenal? Kemudian Besoknya dan seterusnya selalu muncul catatan berisi seperti itu, akhirnya Sang Ayah menyerah dan membelikan Bola Hitam dan Putih itu. Dan akhirnya berhenti juga anaknya mengiriminya catatan.
Masa SMA pun tiba, Sekolah si Anak ternyata jauh dari rumah, sehingga dia harus menaiki bus setiap pagi untuk ke sekolah, sementara teman-temannya sudah menaiki motor atau mobil. Suatu hari Ayahnya pulang lebih awal dan sudah di rumah, sehingga melihat dia pulang diantar oleh temannya dengan motor. Sang Ayahpun merasa sangat malu, Anak satu-satunya kok dia tidak bisa belikan mobil? Karena itu dia menawarkan Sang Anak sebuah mobil, Namun sang anak menolak karena menurutnya mobil itu tidak praktis, " Lebih baik ayah belikan aku Bola Hitam Putih saja." Sang ayah mulai kesal, Ayahnya tidak menerima penolakan. Kemudian akhirnya mereka berdua berunding. Dan diputuskan bahwa membeli Sepeda Motor model terbaru dan sepasang bola hitam putih lagi. Sang Ayah jengkel, bertahun-tahun dia belikan bola hitam putih tanpa tau sebabnya. Dan Sang Anak pun tidak ada keinginan memberi tau Orang tuanya.
Tibalah Masa Kuliah, Sang Anak memang sangat cerdas sehingga mampu memasuki Perguruan Tinggi yang terkenal dan membuat Ayahnya begitu bangga, dihadiahkanlah sebuah mobil Mewah untuk Anak tunggalnya ini. Anehnya berbulan-bulan berikutnya mobilnya hanya didiamkan saja, Dia masih naik motor untuk kemana-mana termasuk kuliah dan pacaran. Pacarnya kemudian bingung dengan kelakuan si anak, dia punya mobil yang bagus tapi tidak dipakai. Dia menanyakan hal ini, kemudian sang anak menjawab karena Ayahnya tidak membelikannya bola hitam dan putih. Dia merasa ayahnya tidak mengerti anaknya sendiri. Suatu hari ketika menghadiri acara makan malam bersama, Pacar anak itu bercerita kepada Sang Ayah, kenapa tidak membelikan bola hitam putih itu. Sang Ayah sebenarnya sangat sensitif dengan bola-bola itu, "Ya ampun, sampai pacar anakku menyuruh belikan bola itu, ada apa sih?" Pikirnya dalam hati. Kemudian Pacar Anak itu menjelaskan bahwa karena tidak dibelikan bola-bola itu, Anaknya tidak mau memakai mobil mewah yang dia berikan. Padahal di kamar si Anak udah banyak banget bola hitam putih. Akhirnya besoknya Sang Ayah membelikan Bola-bola itu. Bagaimana tidak? Sudah sampai Anak orang lain yang minta.
Suatu hari si Anak liburan ke puncak bersama pacarnya, menaiki mobil mewahnya itu. Tiba-tiba pacarnya menciumnya sehingga dia terkejut dan hilang keseimbangan. Kecelakaanpun terjadi, dan mereka segera dibawa ke Rumah Sakit. Sang Ayah yang menerima telp dari Rumah Sakit pun langsung menuju kesana. Sesampainya dijelaskan bahwa mereka berdua tidak menggunakan Seat Belt sehingga benturannya sangat fatal. Pacarnya tewas ditempat, sedangkan anaknya dalam kondisi sangat kritis. Sang Ayah segera menuju ke ruangan anaknya dirawat, dia melihat dokter yang keluar dari kamar itu dan dia bertanya, " Dok, Anak saya bagaimana?" Wajah dokter menunjukan raut wajah lesu dan duka," Maaf Pak, Kami sudah berusaha sebaik mungkin, sebaiknya anda memanfaatkan waktu yang tersisa dengan baik."
Sang Ayah memasuki ruangan itu, melihat anaknya terbaring lemas sambil menangis. Dia sedih karena pacarnya juga tidak tertolong. Anak yang melihat ayahnya kemudian berkata," Maaf ya Ayah, Aku menyetir dengan tidak hati-hati." Ayahnya pun begitu haru, mereka terasa menjadi begitu dekat di saat terakhir ini. Ayahnya pun mengatakan sesalnya karena selalu sibuk, tidak bisa menemani dia. Sang Anakpun menceritakan, bahwa dia tidak pernah merasa buruk pada Ayahnya, namun dia memang sempat kesal. Kenapa Ayahnya ketika punya uang lebih selalu membelikan dia macam-macam sementara dia hanya meminta Bola Hitam dan Putih. Sang Ayah merasa ini waktu yang tepat dan terakhir, Diapun bertanya," Nak, Sebenarnya ada apa dengan Bola Hitam dan Putih ini? Kenapa kamu selalu minta itu? Ada apa sebenarnya?"
(Pembaca juga penasaran bukan?)
Si Anak akhirnya berusaha menjawab, dengan terpatah-patah karena dia sudah benar-benar sekarat, " I.. tu.. Kare..na...." Si Anak menutup matanya, dan nafasnya pun berhenti. Sang Anak telah pergi tanpa sempat memberi taukan tentang Rahasia di balik Bola Hitam dan Putih tersebut.
Sang Ayah yang bertahun-tahun bersama Anaknya saja tidak tau, Apalagi saya yang hanya bercerita? Jadi Gimana?

Inilah kisah paling misterius, Hehe.

3 komentar:

  1. Duh, bacanya pakek deg-degan nih! Pastinya ada hikmah di balik cerita ini yaa..Menurut saya, untuk membahagiakan orang itu tidak mahal, jangan memberi karna bagus dimata umum. cukup dengan apa yang ia mau.

    Seringkali kita beranggapan yang baik menurut kita pasti baik menurut org lain.
    Begitu kalau nggak salah hehe...:)

    BalasHapus
  2. saya bacanya serius eh endingnya gantung gitu hehe
    apa dong bola hitam putih itu?

    BalasHapus
  3. Dalam hidup, seringkali kita muncul pertanyaan. Kenapa begini? Kenapa begitu?

    Setiap hal selalu punya alasan, tetapi sulit mencari alasan tersebut. Nah pilihan kita ingin melanjutkan hidup atau sibuk mencari alasan tersebut :)

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)