Sabtu, 23 Mei 2015

Ketika Tidak ada yang Bisa di Lakukan

Selalu ada saat dimana kita tidak bisa melakukan apapun


Menurutku diantara begitu banyak jenis transportasi yang ada, kapal laut adalah yang paling tidak efisien. Selain aku mabuk laut, aku juga mengalami beberapa hal yang tidak mengenakan ketika berada dalam kapal.

Apa kalian punya pengalaman yang buruk dalam kapal laut?

Kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu, saat itu aku sedang melakukan perjalanan sendiri. Sehari sebelum aku pulang, baru kuketahui bahwa tiket pesawat yang kupesan ternyata lupa diambil oleh pihak travel yang kupakai, sehingga aku tidak bisa naik pesawat terbang untuk pulang esok harinya.

Setelah semalaman berpikir di Hotel,akhirnya kuputuskan aku akan pulang dengan kapal laut pada pagi harinya. Aku ada pertemuan yang tidak bisa di undur pada malam harinya. Kapal bukan transportasi populer di kalimantan karena itu aku yakin bisa mendapat tiketnya di pelabuhan pada hari keberangkatan.

Benar saja, ketika aku sampai di pelabuhan masih banyak tiket tersisa. Jika naik kapal laut, aku selalu membeli tiket VVIP, alasannya tempat duduknya luas dan itu penting karena badanku yang besar. Celakanya hari itu tiket VVIP sudah habis, tiket terakhirnya dibeli oleh orang yang antri di depanku.

Kapal laut ini memang unik dia memiliki 20 kursi VVIP, 120 kursi VIP dan 80 kursi ekonomi. Akhirnya aku mengambil VIP dengan sembarang nomor tempat duduk.

Enaknya kalau kapal sedang sepi, kita bisa memilih tempat duduk yang kita suka dan hari itu penumpang kapal benar-benar sedikit.

Aku memilih kursi yang berada di samping jendela, di dekat pintu masuk ruangan VIP agar mudah jika ingin ke toilet. Seolah hariku belum cukup buruk, seorang pria datang memasuki barisanku sambil membawa tiket, "Mas, itu kursi saya." Dia menunjukan nomor tiketnya, "Bang, sudah pilih duduknya bebas saja." Anehnya si pria ini masih ngotot, "Saya tiap naik kapal ini, duduknya disana Mas. kalau nggak pergi, saya panggil petugasnya nih." 

Pria ringkih nan kurus itu menaikan suaranya, sambil menghela nafas aku mengambil tas-tasku dan memindahkan posisi dudukku, aku mencoba mencari tempat duduk lain yang dekat jendela ternyata sudah terisi semua.

Aku kembali duduk disamping pria kurus yang sedang sibuk membuka laptopnya di tempat yang sempit ini. Aku hanya bisa mengeleng melihat tingkahnya. Baru aku mendapatkan posisi duduk yang enak, dia mencolek tanganku.  "Mas, permisi saya mau pipis." Mau tidak mau aku harus merubah posisi dudukku agar dia bisa lewat.

Kapal belum mulai berlayar saat itu karena masih memuat barang, aku menunggu pria kurus itu kembali sebelum akhirnya kembali mencari posisi duduk yang nyaman. Belum 10 menit pria ini duduk, dia mencolekku lagi. "Mas, permisi saya mau pipis." Aku melihat ke arahnya, "Bukannya barusan pipis ya?" Apa ini de javu atau barusan itu cuma mimpi? Dia langsung berdiri dan menggunakan tangannya untuk mengeser kakiku, seolah sudah tidak tahan untuk pipis.

Pria itu kembali duduk dan sibuk memainkan laptopnya, untuk ketiga kalinya aku berusaha mencari posisi duduk yang nyaman. Suara mesin kapal mulai dinyalakan tepat aku mendapatkan posisi duduk yang begitu nikmat. Kapal mulai bergerak dan karena posisi dudukku yang pas, getarannya terasa seperti kursi pijat otomatis yang mahal. Badan terasa nyaman sekali dan semua itu hanya bertahan beberapa menit.

Pria itu kembali mencolekku, "Apa lagi Bang?" dengan wajah tak bersalah, "Mas, permisi saya mau pipis." Baru kali ini seseorang berhasil membuatku ingin membunuhnya kurang dari satu jam, "Gini deh bang, kamu duduk disini saja. Biar mau pipis enak, nggak usah colek-colek saya." Raut wajahnya nampak kesal, "Ini yang terakhir, cepat minggir." Aku mengubah posisi dudukku lagi, waktu dia lewat aku bisa mendengarnya bergumam, "Aku yang pipis kok dia yang ribut, memangnya ganggu dia apa?" Kalau nggak ganggu ya aku nggak protes.

Dia kembali duduk lagi, kini aku menyerah untuk mencari posisi yang nyaman. Aku hanya duduk saja, dan memejamkan mata. Baru selang dua menit aku menutup mata, ada lagi yang mencolekku. "YA TUHAN APA LAGI?!" pria kurus itu seolah tidak peduli, "Mas, jangan protes terus. Permisi saya mau pipis. Kalau nggak suka, makanya duduk sesuai tiketnya."

Aku benar-benar geram, rasanya ingin kupukul wajahnya yang sudah tinggal tulang itu kemudian kubuang ke laut lepas. Ah, saat itu darah muda masih sangat bergejolak. Aku kemudian mengambil tiketku, melihat nomor tempat dudukku. Langit memang punya leluconnya sendiri, nomornya ternyata tempat aku duduk sekarang. Arghh!

"Ko, Ko!" Suara seorang gadis terdengar, ternyata ada seorang gadis yang duduk di depan kami, "Pindah duduk disini saja, sini kosong." Aku mengambil barang-barangku kemudian pindah duduk di depan, dan pria itu berjalan ke toilet dengan muka kesal.

"Dulu aku pernah duduk disamping dia waktu naik kapal ini, begitu juga sampai mau gila aku Ko. Eh, namaku Devi." aku menyambut tangannya, "Panggil aja Ron, thanks ya sudah kasih tempat ini." Dia mengelengkan kepalanya, "Nggak apa-apa Ko, aku juga butuh teman ngobrol, kalau nggak bisa mabuk laut." 

Kami berdua lalu saling berbincang, Devi ternyata lebih muda dua tahun dariku. Dia menuju kotaku untuk menemui saudara sepupunya yang ternyata temanku juga. Dia juga tidak mendapat tiket pesawat dan lucunya kami berdua memang bela-belain naik kapal ini untuk acara pernikahan temanku malam ini.

"Kebetulan yang aneh ya Ko?" aku tersenyum, "Aku nggak percaya soal kebetulan, tapi memang sih kalau nggak ketemu disini mungkin nanti malam kita senyum-senyum aja tetapi nggak pernah ngobrol." Orang tua Devi sendiri sudah berangkat dua hari lalu menggunakan pesawat, dia baru bisa hari ini berangkat karena sekolah.

Cara Devi ternyata manjur, berbincang dengan orang lain ternyata membuat kita tidak mabuk laut. Mungkin karena fokusnya teralihkan. Kurang lebih setelah menempuh perjalanan empat jam, kapal mengalami guncangan hebat dan kemudian berhenti di tengah lautan.

"Kenapa ya? Kok kapalnya berhenti?" Devi melihat ke jendela. Tidak lama, ada asap hitam terlihat. "Oh, tidak!" Seorang kru kapal memasuki ruangan VIP dan memberi tau untuk tetap tenang, beberapa mulai bingung dan berdiri dari kursinya. Kami diminta untuk tetap duduk. Aku melihat ke handphoneku, tidak ada sinyal.

Aku dan Devi terdiam, wajahnya terlihat pucat dan bingung. Aku mencoba mencairkan suasana, "Oh tidak kenapa tadi?" Devi menatap mataku dan matanya mulai berair, "Aku pernah mimpi ini, kita akan mati tenggelam, mesin kapal rusak dan radionya juga tidak berfungsi. Kita akan mati!" dia mulai menangis pelan. Sementara aku terdiam, benar juga jangan bertanya sesuatu yang kamu tidak siap dengar jawabannya.

Tidak lama kemudian, seorang kru kapal kembali memberikan informasi. "Harap tenang semuanya, mesin kapal meledak, tetapi api sudah dipadamkan. Kapal tidak bisa hidup tetapi kita akan meminta bantuan." Aku melihat wajah kru kapal itu terlihat sangat cemas dan pucat, sepertinya seperti yang Devi katakan radio tidak dapat berfungsi. Jika mesin kapal yang begitu penting saja tidak terawat dengan baik, tidak heran jika radionya juga mengalami hal yang sama.

Mendengar hal itu Devi kembali tenang, "Bantuan akan datang..." Dia kembali ceria, begitu mudahnya emosi manusia berubah sesuai kondisinya. Dia membuka handphonenya dan menunjukan gambar-gambar padaku, mungkin dia berpikir aku masih shock akibat hal yang terjadi barusan, dia gadis yang baik.

Tidak terasa 40 menit berlalu, kami sudah lama mengapung di lautan. Jelas posisi kami tidak akan mudah dilacak karena terbawa ombak, Kenapa kapal ini tidak melempar jangkarnya? Apa laut disini terlalu dalam? itu pikiranku. Penumpang disini bukan orang bodoh, mereka mulai sadar apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kru kapal itu tidak kembali dan memberitau berapa lama lagi bantuan akan tiba? Tentu saja mereka tidak menurunkan jangkar dengan berharap terhanyut menuju salah satu kapal nelayan.

Pria yang kurus dibelakang adalah yang duluan panik, dia mulai gelisah sejak baterai laptopnya habis. Dia pergi mencari kru kapal dan tidak berhenti bertanya, kalian tau dia orang yang sangat persisten. Dari dialah diketahui bahwa radio kapal tidak dapat digunakan. Jelas itu membuat semua penumpang panik. Untungnya tidak banyak orang yang naik kapal ini, sehingga suasana masih terkendali.

Aku melihat ke arah Devi, tatapan matanya kosong.  "Ini jadi kenyataan.." Aku melihat keadaan sekitar, ke arah laut dan berpikir sejenak, "Ya,tidak ada yang bisa kulakukan terhadap ini."

Aku mengeluarkan sebuah buku dari tasku dan mulai membacanya, Devi melihat apa yang kulakukan menjadi bingung, "Bagaimana kau masih bisa membaca disaat seperti ini?" Aku tetap membaca bukuku, "Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki ini, jadi lebih baik kita tenang. Daripada melakukan sesuatu yang bisa membuatnya jadi lebih buruk." Devi diam setelah mendengarku, dia berpikir cukup lama sebelum akhirnya memilih tidur.

Saat itu ada yang marah, ada yang menangis, ada yang histeris. Mereka tidak perlu melakukannya, setidaknya tidak sekarang. Jika mereka tenang, mereka akan sadar bahwa kami memiliki persediaan makanan di kapal ini, dan air. Kami bisa bertahan satu atau dua hari. Selain itu tidak ada tanda-tanda kapal akan tenggelam.

Mereka yang dipelabuhan juga tidak bodoh, jika kapal kami terlambat dan akhirnya tidak muncul-muncul juga, mereka akan mulai mencari kami. Jadi yang perlu kami lakukan saat ini adalah tenang dan menunggu.

Memang tidak mudah melakukannya, mungkin karena aku sudah melewati banyak situasi seperti ini sebelumnya jadi aku lelah untuk panik. Jika aku mati, setidaknya pria menyebalkan itu juga, Haha.

Kapal kami akhirnya ditemukan jam 7 malam, dan kami tiba di darat sekitar pukul 11 malam. Setidaknya temanku bisa menerima alasanku tidak dapat hadir dalam acara pernikahannya.

Jadi apa yang akan kalian lakukan jika tidak ada yang bisa dilakukan?


5 komentar:

  1. tuh cowok bocor hehe...
    kalo gada yg bisa dilakuin, gw sih diem aja.

    BalasHapus
  2. Iya, heran kencing melulu. Lol

    Pernah ketemu dia lagi sekali, sekitar dua tahun kemudian. Dia sih nggak ingat saya, tapi saya ingat banget ma dia :p

    BalasHapus
  3. panik, saya akan panik dan memilih diam berdoa satu-satunya yang bisa dilakukan kayaknya. hadooohhh pengalamannya bung Ron bikin deg-degan hahaha

    BalasHapus
  4. wah menyebalkan sekali bapak2 cekiing itu ya bang,, hahahahah =)) ini kalo blh tau total brp jam perjalanan tu terombang ambing dtengah lautan bgitu?

    BalasHapus
  5. @Ru : Iya, banyak yang begitu. Mungkin cara yang unik untuk mengingatkan kepada Tuhan, hehe.

    @Euis : Iya, nyebelin banget. Kalau mesin matinya sekitar 8 jam deh, total perjalanannya jadi 15 jam :)

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)