Minggu, 31 Mei 2015

Katak yang Nakal






Aku mengingat bahwa kisah ini diceritakan padaku ketika aku nakal saat masih kecil, mengajarkan bahwa apa yang aku lakukan hanya akan mendapatkan penyesalan.

Kisah ini teringat kembali saat aku membuka album-album lama, jadi aku akan menulis sebisa mungkin yang aku ingat.

Seekor anak katak tinggal bersama ibunya yang telah menjanda di sebuah kolam yang besar. Anak katak ini luar biasa nakal dan pembuat onar, ia tidak pernah mau mendengarkan nasehat ibunya dan selalu membuat ibunya sedih dan juga malu.

Kalau Ibu Katak menyuruhnya pergi bermain ke bukit, ia pergi ke tepi pantai. Kalau ibunya minta ia ke desa atas, ia ke desa bawah. Kalau ibunya menyuruhnya ini, ia melakukan itu. Apapun yang ibunya katakan, ia selalu melakukan kebalikannya.

“Apa yang harus aku lakukan terhadap anak ini?” Ibu Katak mengomel. “Kenapa ia tidak bisa bersikap seperti anak-anak katak lainnya? Mereka selalu mendengarkan dan melakukan apa yang disuruh; mereka juga selalu patuh dan baik hati. Aku tidak tahu ia akan jadi apa kalau ia terus bersikap seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kebiasaan buruknya.” Ibu Katak menghela nafas panjang.

“Ha! Ha! Ha!” Anak Katak tertawa. “Hentikan semua omelan itu. Ibu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja sebagaimana adanya.”

“Benarkah itu?” tanya Ibu Katak. “Lalu kenapa kamu bahkan tidak bisa bersuara dengan benar? Kamu bahkan tidak mengeluarkan suara layaknya seekor katak. Sini, Ibu ajari kamu.” Sambil tersenyum, Ibu Katak mengeluarkan suara ‘Kruok! Kruok!’, “Sekarang kamu coba!”

Sambil menyeringai lebar, Anak Katak mengeluarkan suara ‘Kruik! Kruik!’

“Kenapa kamu nakal sekali! Apa kamu ingin membuat Ibu mati penasaran?!” teriak Ibu Katak. “Dengarkanlah Ibu kalau kamu ingin menjadi katak yang baik. Sekarang kamu…”

“Kruik! Kruik!” sahut si Anak Katak, sambil melompat pergi.

Hari demi hari Ibu Katak memarahi anaknya, tapi si Anak Katak tetap saja melakukan apa yang ia inginkan dan selalu melakukan kebalikan dari apa yang dikatakan oleh ibunya. Ibu Katak merasa resah dan sedemikian kuatir mengenai anaknya sampai-sampai Ibu Katak jatuh sakit. Tetap saja, si Anak Katak masih nakal dan bertingkah laku sesukanya.

Suatu hari Ibu Katak, terbaring di ranjang, memanggilnya, “Anakku,” ia berkata, “Ibu merasa tidak akan hidup lama lagi. Ketika Ibu mati, janganlah kubur Ibu di gunung, kuburlah Ibu di samping sungai.” Ibu Katak mengatakan ini karena ia tahu bahwa anaknya akan melakukan kebalikan dari apa yang disuruhnya.

Beberapa hari kemudian, Ibu Katak tiada. Anak Katak menangis dan terus menangis. “Oh, Ibuku yang malang! Aku telah membuat Ibu demikian resah karena tingkah lakuku. Kenapa aku tidak pernah mendengarkan kata-kata Ibu?!” Anak Katak menyalahkan dirinya. “Sekarang Ibu telah pergi. Aku telah membunuh Ibu. Aku membunuh Ibu.”

Anak Katak teringat kembali masa-masa ketika bersama ibunya dan semua masalah serta kenakalan yang telah ia lakukan terhadap ibunya. Lalu ia berkata dalam hati, “Aku selalu melakukan kebalikan dari apa yang Ibu suruh karena aku mengira itu menyenangkan. Akan tetapi kali ini aku akan melakukan sesuai permintaan terakhir Ibu.”

Jadi, Anak Katak mengubur ibunya di samping sungai, walaupun ia merasa hal itu kuranglah bijaksana.

Beberapa minggu kemudian, terjadilah hujan badai. Hujan yang sedemikian deras menyebabkan sungai meluap. Anak Katak tidak bisa tidur karena terus mengkhawatirkan kuburan ibunya akan terhanyut oleh luapan air. Akhirnya ia pergi untuk menjaga kuburan ibunya.

Di tengah guyuran hujan, Anak Katak duduk, dan terus menerus menangis, “Kruok! Kruok! Mohon janganlah menghanyutkan Ibu!” Dan itulah yang dilakukan oleh si Anak Katak setiap kali hujan turun.

Dan sejak saat itulah, katak-katak akan selalu bersuara “Kruok! Kruok!” setiap kali hujan turun.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)