Jumat, 17 April 2015

Orang Jujur tidak Sekolah

Hidup penuh kedamaian selalu dimulai dengan dengan kejujuran


Judul tulisan kali ini mungkin pernah kalian baca pada tempat lain, hal itu benar. Judul ini diambil dari buku yang berjudul sama karangan Andri Rizki Putra.

Tulisan ini tidak membahas isi buku tersebut, aku sendiri juga belum pernah membacanya.

Aku ingin membahas sebuah fenomena yang sudah lama namun masih terjadi hingga kini.

Pertama kali aku membaca judul tersebut saat membeli buku secara online, buku itu segera menarik perhatianku. Sayangnya aku tidak tertarik untuk membaca lebih jauh. Alasannya sederhana, aku juga pernah merasakan hal yang sama perbedaannya adalah cara kami mengatasinya.

Aku pernah menonton talkshow yang mengundang Andri sebagai bintang tamu, jadi aku sudah ada gambaran tentang kisahnya sendiri. Aku juga memiliki rasa prihatin yang sama, setidaknya sampai beberapa tahun lalu aku lelah untuk memikirkan hal itu.

Seperti biasanya, tahun ini pun tidak terhindarkan. Fenomena kebocoran soal. Perbedaannya kali ini kasus kebocoran dianggap lebih serius dari tahun-tahun sebelumnya. Menteri Pendidikan Anies sepertinya tidak bisa menerima acara tahunan yang sudah berlangsung cukup lama ini.

Sejak lama, seperti orang yang pernah duduk dibangku sekolah. Aku seringkali menanyakan apa sebenarnya tujuan UAN yang tidak jelas itu. Apa nasib pendidikan 3 tahun seseorang harus ditentukan dengan 3 hari tersebut?

Sekolah yang harusnya menjadi lembaga pendidikan rasanya berubah fungsi karena adanya UAN ini. Bisa kita lihat, banyak orang yang tidak begitu berhasil dalam UAN tetap dapat kuliah dengan baik, dan berkarir dengan baik.

Aku punya sederet daftar nama orang yang bahkan tidak tamat sekolah formal tetapi berhasil dalam dunia sosial. Fungsi sekolah seharusnya sudah melenceng jauh, alasannya sederhana turunnya kualitas pendidik.

Pendidik saat ini sebagian besar berfokus pada peningkatan kualitas materi yang mereka kuasai, namun moral dan etika dalam mengajar seringkali dilupakan.

Aku termasuk seorang pengajar non-formal, untungnya aku memiliki beberapa guru yang bisa kujadikan panutan.

Mengajar adalah sebuah tanggung jawab, bukan pekerjaan. Salah seorang guruku pernah berkata, "Tidak ada murid yang gagal, hanya ada guru yang buruk." Ketika seseorang tidak mengerti suatu hal, dia bukan tidak bisa mempelajari hal tersebut, tetapi pendidiknya lah yang tidak bisa menyampaikan dengan baik.

Aku merasakan itu dalam dua sisi, ketika aku menjadi siswa aku kesulitan menyerap ilmu matematika dari seorang guru, dia seringkali mengatakan bahwa aku bodoh dalam hal ini. Ketika guru lain mengajarkan hal yang sama dikursus, aku bisa menyerapnya dengan baik. Ini membuktikan bahwa kualitas pengajar sangat penting dalam proses pendidikan.

Saat aku menjadi pengajar juga demikian, ada seseorang yang tidak bisa menangkap penjelasanku dengan baik. Aku mengulangi penjelasanku dengan cara berbeda, cara yang khusus untuknya dan akhirnya dia bisa mengerti dengan baik.

Kini aku melihat sekolah telah jarang memiliki kualitas pengajar tersebut, para pengajar seringkali malas dan mengajar hanya untuk menerima gaji. Mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri. Terkadang ada guru yang membiarkan murid-muridnya mencontek agar mendapat nilai yang tinggi, dengan demikian dia akan dinilai berhasil dalam mengajar.

UAN juga seringkali menjadi kepentingan sekolah daripada siswanya, dimana reputasi sekolah ditentukan oleh persentase kelulusannya. Pihak sekolah berlomba-lomba bersiasat untuk "membantu" siswanya lulus dengan nilai yang baik.

Yang seringkali tidak disadari adalah hal-hal tersebut membentuk karakter dan mental seseorang, mereka akan berpikir bahwa kejujuran dapat dikesampingkan jika diperlukan untuk mencapai sesuatu yang mereka inginkan.

Sekolah yang harusnya menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter yang baik, kini malah bertindak sebaliknya.

Akhir kata aku tidak bermaksud untuk mengajak generasi muda untuk tidak sekolah, tentu saja sekolah itu penting tetapi bagaimana kalian berjalan dalam sistemnya itu yang lebih penting.

Dalam dunia kerja juga demikian, Cintai pekerjaanmu bukan perusahaanmu. Lakukan yang terbaik sesuai kemampuanmu daripada menjadi penyesalan kemudian hari. :)

3 komentar:

  1. Setuju bangett!! Maka saya tidak kaget, ketika tengah semester anak saya mendadak memutuskan keluar dari sekolah. Jika orang cuma menghargai ijazah lebih dari pd kemampuan, cukup ambil Paket C saja! setelah itu anak saya tenang menikmati pilihan barunya. Tak dipaksa menatap kebohongan dalam pendidikan.

    BalasHapus
  2. Benar kak Tia, hebat bisa jadi orang tua yang mendukung pilihan anakny :)

    Saya jg pny seorang keponakan angkat yang keluar dari sekolah saat duduk dibangku kelas 10, kini dia lulus kuliah 2 tahun lebih cepat dari orang seusianya :)

    Kini paket C bisa digunakan untuk kuliah tentu bisa jadi pilihan alternatif pendidikan yang justru lebih berkualitas seperti pendidikan di rumah

    BalasHapus
  3. Setuju banget, cintai pekerjaan mu tapi harusnya juga cintai perusahaanmu hehehe

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)