Rabu, 22 April 2015

Muchausen Syndrom - Sakit untuk Mencari Perhatian



Pernah kalian bertemu dengan orang yang suka mencari perhatian? Bedanya dia mencari perhatian dengan mengatakan bahwa dirinya sakit atau bahkan selalu terlihat terluka secara fisik? Taukah kamu bahwa itu mungkin Muchausen Syndrom?

Selama aku melakukan praktik terapi beberapa kali aku menangani kasus Muchausen syndrom ini, bahkan diantara dilakukan oleh orang tua pada anaknya. Tujuannya adalah mendapat perhatian publik, kasus lainnya adalah seorang gadis yang suka mengiris tangannya sendiri bahkan ada seorang pria yang suka memukuli dirinya sendiri agar terlihat hebat dan diperhatikan.

Tertarik mengenal lebih dalam?

Munchausen syndrom adalah suatu gangguan jiwa (psychiatric disorder) dimana seseorang berpura-pura sakit, menderita, atau mengalami trauma psikologis untuk mendapatkan perhatian, simpati, investigasi, perawatan, pengobatan, dan bantuan (terutama dari kalangan medis) untuk dirinya sendiri. 
Nama sindrom Munchausen berasal dari Baron von Munchausen (Karl Friedrich Hieronymus Freiherr von Munchausen, 1720-1797), tentara Rusia kelahiran Jerman pada perang Dunia I yang menceritakan banyak petualangan fantastisnya, yang kemudian oleh Rudolf Raspe dipublikasikan dalam “The  Surprising Adventure of Baron Munchausen” . Begitu piawainya, sehingga banyak orang terkecoh, mengira kisah itu benar-benar terjadi.

Buku-buku Munchausen laku keras, hingga cetak ulang beberapa kali, sampai akhirnya terbongkar bahwa kisah-kisah heroik itu hanya bualan semata. Munchausen kemudian  dijadikan nama syndrom gangguan psikologis. Pengidap sindrom Munchausen senang berfantasi dan melakukan kebohongan. Ciri khususnya adalah pura-pura sakit dan berusaha dirawat di rumah sakit.
“Dengan kata lain, Sindrom Munchausen adalah istilah untuk penyakit mental dimana orang menciptakan gejala atau penyakit pada diri mereka atau anak mereka untuk mendapat investigasi, penanganan,  perhatian, simpati dan kenyamanan dari tenaga medis,” terang dr. Djunaedi Tjakrawerdaja, Sp.Kj.

Dalam beberapa hal, orang yang menderita sindrom Munchausen memiliki pengetahuan medis tinggi. Contohnya orang yang terkena sindrom ini menyuntik diri mereka dengan benda yang terinfeksi, sehingga harus dilakukan analisi medis dan memperpanjang masa inap mereka di rumah sakit.

Orang dengan sindrom Munchausen dapat membuat gejala, mendorong operasi berisiko, atau mencoba untuk hasil mengacaukan hasil tes laboratorium rig untuk  mendapatkan simpati dan perhatian.

Munchausen syndrome merupakan sekelompok kondisi yang disebut gangguan tiruan (factitious disorder) yang baik dibuat buat atau dibuat oleh diri sendiri secara sengaja. Gangguan tiruan dapat bersifat psikologis atau fisik. Munchausen syndrome merupakan  bentuk yang paling parah dan kronis tiruan penyakit fisik.

Penderita pandai menunjukkan kombinasi keluhan, tanda, dan gejala yang telah didramatisasi (dilebih-lebihkan) sehingga tampak begitu berat. Pola gejala yang sesuai dengan diagnosis tampak begitu mirip dengan teori yang digambarkan di buku (textbook presentation) . Dalam usahanya untuk dirawat (mondok) di rumah sakit, mendapatkan perawatan yang intensive, dan intervensi yang luas, biasanya penderita datang dengan mimik wajah seolah menderita sakit berat yang perlu segera dioperasi dan ditemukan penyebabnya, dsb.

Contoh lain dari berpura-pura adalah ‘menjual kesedihan’. Biasanya taktik ini digunakan untuk menarik simpati. Fantasi kesedihan biasanya dilakukan kelompok masayarakat lemah. Anak jalanan misalnya, mahir mendramatisasi penderitaanya sedemikian rupa untuk menarik simpati masyarakat. Meski ia memang menderita, tetapi karena dibumbui fantasi, maka termasuk pula kepura-puraan.


Munchausen syndrome adalah gangguan misterius dan sulit diobati.

Alasan utama mereka sulit diobati adalah mereka tidak memiliki keinginan untuk sembuh atau bekerja sama dengan terapis. Selain itu ada beberapa kasus mereka memiliki pengetahuan medis yang tinggi, bahkan pada kasus tertentu lebih pandai dari dokter atau terapis yang menangani mereka.

Dari pengalamanku sendiri, aku pernah menangani penderita Muchausen Syndrom yang memiliki pengetahuan psikologis dan hipnosis yang tinggi. Membutuhkan waktu dan tenaga ekstra untuk menanganinya.

Munchausen syndrome  tidak sama dengan menciptakan masalah medis untuk manfaat praktis, seperti keluar dari pekerjaan atau memenangkan gugatan. Ini juga tidak sama dengan hipokondria. Orang dengan hipokondria benar-benar percaya mereka sakit, sedangkan orang dengan sindrom Munchausen tidak sakit, tetapi mereka ingin sakit

Penderita Munchausen syndrome kebanyakan adalah pria. Frekuensi sindrom ini, baik di Amerika Serikat maupun secara Internasional memang jarang. Tapi meskipun kebanyakan penderita berusia dewasa, muda, hingga pertengahan, namun semua usia dapat mengalami sindrom Munchausen. Bahkan banyak kasus serupa yang dikenal dengan Munchausen syndrome by proxy yang dijumpai pada orang tua atau penjaga anak-anak. Mereka meyakinkan dengan berbagai cara bahwa anaknya perlu dirawat, mondok di rumah sakit, atau bahkan dioperasi.

Sindrom ini diikuti gejala klinis yang nyata seperti sakit kepala, mual, kenaikan suhu tubuh, sakit atau bengkak pada bagian tubuh, bahkan pingsan (benar-benar pingsan, bukan pura-pura) .


Gejala Munchausen syndrome termasuk:
  • Cerita dramatis tentang masalah medis yang banyak
  • Sering di rawat inap di rumah sakit
  • Gejala yang tidak jelas atau tidak konsisten
  • Kondisi yang memburuk tanpa alasan yang jelas
  • Semangat untuk sering menjalani tes atau operasi berisiko
  • Mempunyai pengetahuan yang luas tentang istilah medis dan penyakit
  • Mencari pengobatan dari dokter  atau rumah sakit yang berbeda
  • Memiliki sedikit pengunjung ketika dirawat di rumah sakit
  • Keengganan untuk memungkinkan profesional kesehatan untuk berbicara dengan keluarga atau teman
  • Berdebat dengan staf rumah sakit
  • Sering minta obat penghilang rasa sakit atau obat lain
Karena orang dengan sindrom Munchausen menjadi ahli dalam berpura-pura mempunyai gejala dan penyakit atau menimbulkan luka yang nyata pada diri mereka sendiri, kadang-kadang sulit bagi  orang yang dicintai untuk mengetahui apakah penyakit tersebut adalah nyata atau tidak.

Pada stadium akut, pengidap bisa dengan sengaja mencelakakan diri. Misalnya sengaja jatuh agar tubuhnya luka. Makanya, meski hanya fabrikasi (pura-pura), bukan berarti sindrom itu gampang di deteksi. Bahkan oleh tenaga medis sekalipun. Pelaku sindrom Munchausen mampu mengelabui tenaga medis.

Orang dengan sindrom Munchausen membuat gejala atau menyebabkan penyakit dengan beberapa cara, termasuk:
  • Mengarang riwayat penyakit.  Mereka dapat memberikan orang yang dicintai, penyedia layanan kesehatan atau kelompok internet bahkan dukungan riwayat medis palsu, seperti mengklaim telah menderita kanker atau HIV.
  • Memalsukan gejala. Mereka mungkin membuat gejala palsu, seperti sakit perut, kejang atau pingsan.
  • Merugikan diri. Mereka mungkin melukai atau membuat diri mereka sakit, seperti menyuntikkan diri dengan bakteri, bensin susu, atau feses. Mereka mungkin memotong atau membakar diri mereka sendiri. Mereka mungkin memakai obat untuk meniru penyakit, seperti pengencer darah, obat kemoterapi dan obat diabetes.
  • Mencegah penyembuhan. Mereka mungkin mengganggu luka, seperti membuka kembali luka.
  • Membuat Gangguan. Mereka mungkin memanipulasi instrumen medis untuk hasil miring, seperti memanaskan termometer. Atau mereka mungkin mengganggu tes laboratorium, seperti mencemari sampel urin mereka dengan darah atau zat lainnya.


Jika kalian mengenal seseorang apalagi seseorang yang dekat dengan anda, sebaiknya segera dilakukan terapi dan penanganan yang profesional sebelum mencapai ke tahap akut.

Semoga tulisan ini bermanfaat :)




4 komentar:

  1. Penderita Munchausen syndrome kebanyakan adalah pria. Mas Ron mau nanya dong kenapa kebanyakan pria? Makasih..:-)

    BalasHapus
  2. Pengaruh hormonal yang terdapat pada pria, dan pada umumnya pria lebih ingin menjadi pusat perhatian serta kebutuhannya untuk dicintai lebih besar daripada wanita. Berbeda dengan pria, wanita memiliki lebih banyak cara untuk mencintai dirinya sendiri salah satunya belanja :)

    BalasHapus
  3. Ia sih..hehe perempuan dan belanja itu gak bisa dipisahkan..

    BalasHapus
  4. saya punya teman perempuan seperti ini. semua yg di jelaskan samaaaa sekaliii....

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)