Selasa, 28 April 2015

Menulis di Antara Bintang-Bintang

Tidak peduli berapa lama malam berlangsung, pagi akan tetap datang
- Ron


Bagaimana suasana malam untukmu? Begitu banyak cara setiap orang menghabiskan waktu dimalam hari. Ketika muda mungkin sebagian besar dari kita melakukan hal yang sama yaitu tidur. Seiring berjalannya waktu, kehidupan malam terkadang justru menjadi kehidupan sesungguhnya ditengah kesibukan hari-hari kita.

Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk membaca, ada yang menikmati tayangan televisi atau menonton film di pc. Ada yang menghabiskan waktunya dengan berpesta, berkumpul dan menyusuri jalanan sambil menikmati hembusan angin malam.

Saat ini aku berada di depan laptop mungilku menulis ditemani secangkir teh hangat sambil menikmati rintik hujan. Aku juga memiliki banyak kisah saat dunia diterangi sinar bulan dan bintang ini.

Aku mulai hidup di dunia malam pada usia cukup muda, saat masih berusia belasan tahun. Hidup di kota terpencil tanpa fasilitas hiburan yang memadai sudah menjadi hal biasa jika remaja terlihat duduk-duduk di tepi jalan membariskan motornya. Aku pun pernah seperti itu, bedanya mungkin kami tidak mabuk-mabukan dan hanya beberapa temanku yang merokok.

Rasa kebersamaan, saling bercanda dan tertawa membuatku nyaman dengan suasana tersebut. Aku pun biasa pulang pagi, biasanya kami isi malam dengan berbagai permainan seperti kartu, catur bahkan monopoli. Maklum saja, di zaman itu belum ada namanya Smart Phone seperti sekarang ini, tapi aku tidak menyesali itu, justru karena tiada Smart phone aku bisa merasakan pengalaman yang berarti itu.

Kenapa kami ngumpul di malam hari? Alasannya jauh lebih sederhana, pagi hari digunakan untuk sekolah, setelahnya ada kegiatan ekskul atau membantu orang tua hingga sore atau malam hari.

Hal yang paling kusuka saat itu adalah berbaring di rerumputan sambil menatap langit yang penuh bintang. Jika aku menutup mataku sekarang, aku masih bisa mengingat dengan jelas keindahan langit di malam-malam itu.

Berjalannya waktu, berkumpul di malam hari juga semakin sulit dilakukan di tepi jalan karena dinilai menganggu ketertiban. Kami mulai bergantian menggunakan tempat-tempat ngumpul seperti rumah-rumah temanku, sampai bangunan kosong. Ya, kami pernah mencobanya di cafe tetapi suasananya tidak bebas dan kami juga harus berinteraksi dengan orang-orang yang tidak kami kenali.

Jika di rumah teman, tentu kami tidak bisa ngumpul sampai larut. Enaknya selalu ada camilan ketika berada di rumah, jika di tepi jalan kami kerepotan membuang sampah serta mencari air minum atau wc.

Kehidupan malam pun terus berlanjut hingga masuk masa kerja, saat itu aku menggunakan waktu malamku untuk perkembangan diri, sebagian besar untuk membaca dan merangkum. Aku hanya tidur sekitar 4 jam setiap harinya bahkan jika besoknya hari libur. Aku memanfaatkan waktu liburku untuk refreshing, karena kunci untuk tetap aktif adalah hiburan dan istirahat yang cukup. Ada beberapa waktu dimana aku tidur lebih dari 4 jam demi menjaga kesehatan.

Masa-masa kehidupan itu mulai menghilang ketika aku aktif mengajar dan memberikan terapi. Waktu malam sering kugunakan untuk evaluasi singkat, dan istirahat yang cukup. Dalam mengajar dan menerapi dibutuhkan konsentrasi yang baik dan tenaga ekstra.

Kini sejak memasuki dunia menulis, aku mulai merasakan dunia malamku kembali. Aku tidur sekitar 5-6 jam sehari, namun badan tetap segar. Perlahan-lahan akan kembali menjadi 4 jam kembali. Kegiatan malamku kebanyakan membaca, menulis, mengevaluasi dan berkarya.

Aku menikmati menulis di malam hari, rasanya seperti berada diantara bintang-bintang. Sebagai Pluviophile aku juga menikmati menulis sambil mendengarkan rintik hujan, ataupun membaca di tempat tidur sambil mendengar alunan musik instrumental atau suara hujan.

Bagaimana dengan malam kalian?

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)