Senin, 20 April 2015

Jangan Gampang bilang Aku Otak Kanan

Kreativitas memang penting tetapi logika juga sama pentingnya


Beberapa tahun yang lalu kampanye otak kanan telah menjadi sebuah fenomena global yang berhasil mengubah cara berpikir masyarakat skala global.

Otak kanan kini seringkali disebut-sebut dalam dunia bisnis dan training, menjadi begitu sakral bahkan sempat muncul adanya otak tengah yang memiliki SQ.

Pembahasan awal tentang EQ kini justru jauh melenceng dari kampanye awalnya. Seringkali kita mendengar orang mengatakan, "Ah aku orang otak kanan makanya lemah begini." atau "Aku tidak cocok begini, otakku mah otak bisnis nggak perlu banyak teori lah."

Benarkah pernyataan-pernyataan tersebut?

Mari kita kembali ke beberapa tahun yang lalu, dimana kampanye tentang otak kanan baru dimulai. Sebenarnya puluhan tahun sebelumnya pembahasan tentang EQ sudah sering terjadi namun masyarakat tidak memberikan tanggapan yang positif terhadap hal tersebut. Ketika dunia masih berada dalam sekat-sekat pengembangan EQ dinilai tidak penting.

Beberapa tahun yang lalu pembahasan Otak kanan dapat sukses dengan demikian hebatnya disebabkan oleh era yang kini disebut era global. Dimana dunia komunikasi maju dengan sangat pesat menembus batas-batas yang sebelumnya menjadi sekat antar negara.

Berbagai lapangan kerja jenis baru bermunculan dan itu berkat kreativitas orang-orang Otak Kanan.

Sebenarnya pembahasan itu bertujuan agar manusia menyeimbangkan penggunaan kedua sisi otaknya, menyadari bahwa EQ sama pentingnya dengan IQ. Dengan pengembangan EQ yang baik akan meningkatkan produktivitas dan juga taraf kebahagiaan dalam dunia sosial maupun personal.

Seiring waktu hal ini justru dibelokan oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab, dengan mengatakan bahwa EQ jauh lebih penting dari IQ. Mereka membisniskan hal tersebut dengan membuka pelatihan otak kanan. Celakanya banyak orang yang mulai memperhatikan masalah otak kanan ini setelah dibelokan demikian rupa.

Indonesia tidak luput dari hal tersebut, bermunculanlah buku-buku dan seminar serta workshop tentang otak kanan yang materinya sebenarnya tidak matang bahkan kebanyakan bersifat pendapat pribadi.

Saya sering menemukan buku-buku yang mengaku buku otak kanan atau lateral tetapi setelah saya baca isinya sebagian besar adalah tentang otak kiri. Para penulis ini sepertinya bahkan tidak menyadari mana fungsi otak kanan dan otak kiri serta cara melatihnya.

Efek buruk lain adalah banyak anak-anak terutama pelajar yang tidak memiliki prestasi yang baik disekolahnya mulai menjadikan otak kanan sebagai alasan. "Otak kiriku memang lemah, aku dominan otak kanan." sering terdengar alasan seperti itu. Padahal jika di tes bisa jadi otak kanannya juga lemah.

Ketika IQmu rendah, tidak serta merta EQmu menjadi tinggi begitu juga sebaliknya. Semua kembali bagaimana kita mengasah hal tersebut.

Ada seorang teman yang memutuskan keluar dari kuliah jurusan bisnisnya karena merasa teori yang diajarkan hanya membuat kepalanya pusing. "Aku tidak butuh teori, aku mah otak bisnis pakai pengalaman saja."

Dia keluar dari kuliah dan memulai bisnisnya, hasilnya? Bangkrut. Dia mulai menyalahkan trainer dan buku-buku yang dia baca. Hal itu benar, tetapi kesalahan juga terletak padanya.

Bisnis tidak semuanya membutuhkan dominan otak kanan, EQ akan berguna dalam Industri Kreatif tetapi dalam Bisnis yang membutuhkan lebih dominan perhitungan dan nalar tentunya otak kiri akan berperan besar. Dalam bisnis yang besar, membutuhkan banyak orang untuk berhasil tentunya tidak bisa semuanya dominan otak kiri atau dominan otak kanan. Semua memiliki perannya masing-masing.

Mari kembali pada kampanye awal otak kanan, dimana mengajak kita untuk menyeimbangkan penggunaan otak kiri dan kanan agar mencapai hasil yang maksimal. :)

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)