Jumat, 27 Maret 2015

Proses dalam Perjuangan

Tidak peduli betapa besar bakat atau usahamu, beberapa hal tetap membutuhkan waktu.
Kamu tidak bisa menghasilkan bayi dalam sebulan dengan menghamili 9 wanita.
- Warren Buffet


Kalimat Warren Buffet benar-benar sangat berarti. Berapa banyak kegagalan yang terjadi sebenarnya bukan karena kesalahan melainkan ketidak sabaran?

Ada istilah lain, ketika seribu kali jatuh maka bangkit seribu satu kali. Bukan hanya mengingatkan tentang jangan menyerah karena kegagalan tetapi jangan berhenti karena waktu.

Apa anda sendiri pernah merasakannya?

Dalam hidupku seringkali aku bertemu dengan orang yang cepat panas, namun juga cepat dingin. Banyak sekali manusia yang seperti itu. Mereka mengebu-gebu ketika ingin mempelajari sesuatu dan cepat menyerah jika tidak menguasainya dalam waktu singkat.

Tidak dapat dipungkiri bahwa aku pernah berada pada masa-masa seperti itu.

"Ah ini tidak akan berhasil."
"Sepertinya ini bukan bakatku."
"Aku tau ini akan terjadi."
"Setidaknya aku sudah mencoba."

Seringkali mendengar kalimat seperti itu? Bahkan mungkin biasanya yang mengucapkannya?

Aku mengerti perasaan itu, setelah semua usaha yang kita lakukan tetapi hasilnya tetap memuaskan. "Kamu masih kurang berusaha." Seringkali orang lain mengatakan demikian padaku, padahal aku sudah berusaha hingga batas kemampuanku.

Semua itu berubah beberapa tahun lalu, aku berusaha melakukan sesuatu dan aku sudah mengeluarkan banyak biaya dan usaha untuk hal tersebut. Ketika itu aku mengalami depresi berat, melihat hal itu ayahku mengajakku untuk pergi memancing.

Awalnya aku tidak mau, karena aku tidak menyukainya tetapi sangat jarang ayahku memintaku menemaninya maka aku pun pergi bersamanya. Kami duduk selama dua jam tanpa menangkap satu ikanpun!

Aku mulai menggerutu dan mengatakan ini semua sia-sia. Ayahku hanya tersenyum dan mengatakan, "Ada orang yang berbakat memancing, bukan karena dia bisa menangkap banyak ikan tetapi orang yang berbakat memancing itu adalah orang yang bisa menikmati proses memancingnya."

Aku terdiam dan tak mengerti, kemudian ayahku melanjutkan, "Memancing itu seperti berusaha mencapai sesuatu yang kita inginkan, disini kita mencapai ikan. Tidak peduli betapa bagusnya pancingmu, mahalnya umpanmu terkadang ada beberapa hal yang butuh waktu. Walau kita pada akhirnya tidak dapat ikan, tetapi jika kita bisa menikmati prosesnya kita akan mendapatkan hal lainnya."

Saat itu aku langsung merasakan kebahagiaan yang luar biasa, seperti itulah usaha. Kita berharap mencapai suatu hasil yang kita inginkan, ketika gagal mencapai itu kita merasa hancur atau kadang sebelum kita gagal, ketidak sabaran membuat kita mundur.

Padahal selama kita menikmati prosesnya, kita akan belajar banyak hal. Walaupun pada akhirnya kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kita belajar hal lainnya.

Sejak saat itu, aku selalu berusaha bertahan lebih lama, belajar lebih banyak sebelum akhirnya sesuatu membuatku benar-benar harus berhenti. Selain mencapai batas dari bakat dan usahaku, aku juga harus mencapai batas dari ketabahan dan kesabarnku, dengan begitu aku lebih berkembang lagi.

Dalam dunia tulis menulis misalnya, ada seorang sahabat yang bukunya ditolak oleh tiga penerbit. "Ron, mungkin menulis bukan bakatku." aku membaca tulisannya, dan alur ceritanya sangat menarik hanya cara penulisnya yang kurang bagus.

Aku mengirimkannya beberapa ebook tentang menulis, "Sebelum berhenti berusahalah hingga batasmu." Dia telah enggan, takut harus menerima penolakan lainnya. Aku kemudian bercerita penulis yang paling terkenal untuk zaman kita, J.K. Rowling menerima 12 kali penolakan hingga akhirnya Harry Potter diterbitkan disebuah penerbit kecil, hasilnya?

Stephen King, dijuluki King of Thriller harus menerima 30 kali penolakan untuk bukunya yang pertama, dia tidak menyerah dan terus mengirimnya lagi.

Mendengar hal itu akhirnya dia menyelesaikan satu naskah lagi, kemudian aku memintanya selama menunggu hasil dari naskah barunya tulislah lagi satu naskah baru yang dibuat sambil mempelajari buku-buku yang kuberikan.

Tiga bulan berlalu, dia tidak mendapat kabar dari penerbit yang dia kirim. "Ron, sepertinya kini aku ditolak lagi." Aku mengatakan untuk bersabar, mungkin mereka butuh waktu.

Lima bulan kemudian ketika dia sudah lelah menunggu, dia tiba-tiba menerima surat untuk pemberitauan bahwa bukunya akan diterbitkan, dia juga diminta untuk menulis satu naskah lagi. Dia sangat riang karena penantiannya kali ini berbuah manis.

Dia segera mengirim satu naskah yang dikerjakannya sambil menunggu kabar, tiga penolakan sebelumnya hanya ditunggu olehnya tanpa membuat naskah baru, bukankah itu menumpulkan kemampuannya?

Ternyata hal itu menjadi nilai plus dimata penerbit tersebut karena dia dinilai penulis yang aktif.

Banyak hal tidak berjalan sesuai dengan kita inginkan, sabarlah setiap hal akan datang padamu pada waktu yang sesuai. :)

3 komentar:

  1. Dalam langkah awal usaha, penting bangeet nih! Saya harus belajar menikmati proses yaa...Thanks Ron :)

    BalasHapus
  2. @Kak Tia : Iya tetap semangat Kak Tia :D

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)