Kamis, 26 Maret 2015

Privasi dan Popularitas

Semakin tinggi sebuah pohon, maka semakin banyak angin yang akan berhembus padanya.



Pada umumnya sebagian besar orang sangat menyukai popularitas. Mereka senang ketika dirinya terkenal dan orang lain memandangnya. Menjadi pusat perhatian adalah sebuah anugerah bagi mereka, disisi lain ada orang-orang sepertiku yang lebih senang menjauhi popularitas demi privasi.

Masyarakat Jepang mengatakan bahwa kita memiliki tiga wajah, pertama wajah yang kita tunjukan pada dunia, kedua wajah yang kita tunjukan pada sahabat dan keluarga, dan ketiga wajah yang tidak pernah kau tunjukan pada siapapun. Itulah dirimu yang sebenarnya.

Ketika seseorang berada pada tingkat popularitas tertentu, seringkali wajah keduanya ditunjukan pada dunia bahkan wajah pertamanya. Inilah yang sering kita sebut publik figur, ketika seseorang telah menjadi milik publik bukan dirinya sendiri.

Kenapa aku begitu memikirkan hal tersebut?

Bagi orang yang baru mengenalku, mungkin akan heran kenapa ada orang yang tidak menyukai popularitas? Bukankah dikenal banyak orang itu menyenangkan?

Bagi mereka yang mengenalku dengan dekat, mereka akan terkejut ketika tau aku menulis blog dengan namaku sebenarnya. Ya, Ron adalah bagian dari nama asliku, yang juga termasuk dalam semua kartu identitasku.

Kenapa hal itu aneh? Bukankah banyak orang lain yang menggunakan nama aslinya?

Sebenarnya alasannya cukup rumit, selama ini selama berselancar di dunia maya bahkan ketika di dunia nyata sekalipun aku seringkali mengunakan Pseudonyms yaitu nama alias atau nama pena. Alasannya sederhana, untuk menjaga privasiku sendiri.

Untuk di dunia maya sendiri, aku memakai cukup banyak Pseudonyms terutama dalam forum-forum dan milis. Termasuk media sosial.

Aku mengaja privasiku secara ekstra karena aku pernah merasakan yang namanya popularitas di dunia nyata, hal itu lebih banyak merepotkannya daripada menyenangkannya. Seringkali anda merasa hidup anda sudah untuk orang lain, Bukankah itu bagus? Ya katakan itu padaku jika kamu harus bangun jam 3 pagi untuk orang yang bahkan tidak kamu kenal sebelumnya melakukan sesuatu selama 5 jam untuk membantunya dan bahkan tidak mendapat terima kasih atau apapun.

Hidup untuk orang lain, dalam arti melayani dan berbuat baik tentu kulakukan juga tetapi jika memang aku ikhlas menjalaninya. Awalnya aku juga merasa ini hal baik sampai akhirnya sangat menganggu aktivitasku, maka dari itu aku menjauhkan diri dan berusaha meraih lagi kebebasan hidupku.

Sejak saat itu, aku memilih untuk tidak membangun popularitas. Ketika berforum atau blog, aku senang berbagi dan belajar bersama. Seringkali kita menjadi populer atau terkenal tanpa disengaja, memang benar terkenal itu bisa jadi keberuntungan daripada usaha.

Aku melakukan ini sejak akhir tahun 2008, dan kupikir itu adalah keputusan yang baik namun kejadian selama waktu itu hingga pertengahan 2014 membuatku akhirnya memutuskan bahwa itu hal yang salah.

Selama beraktivitas di dunia maya, aku seringkali berbagi dan berkarya dengan berbagai nama pena. Celakanya hal itu ternyata bukan merugikan diriku sendiri, tapi juga orang lain.

Ada beberapa kejadian yang bisa menjelaskan hal ini.

Contohnya kejadian sekitar pertengahan 2010, saat itu aku sangat aktif di salah satu forum Indonesia. Saat itu ada majalah yang ingin meliput beberapa pengguna forum tersebut, terpilihlah 8 orang yang akunnya sedang terkenal saat itu untuk di wawancara saat itu melalui email.

Ke-8 ID yang saat itu terkenal semuanya membuka konsultasi gratis untuk membantu user di forum tersebut. Aku kemudian menerima pesan singkat di akunku, aku terpilih karena aku membuka konsultasi spiritual gratis. Spiritual disini dimaksud relaksasi, kontrol emosi dan meditasi. Akhirnya aku menyetujui untuk diwawancara. Yang tidak kusangka adalah 3 dari 8 orang yang terpilih adalah aku sendiri.

Aku menerima pesan yang sama di dua ID berbeda. Aku memang juga membuka konsultasi pengembangan diri dan konsultasi kejiwaan. Aku tidak melakukan ketiganya dengan ID yang sama agar tidak terlalu menarik perhatian. Lagipula siapa yang percaya satu orang yang sama bisa menangani konsultasi yang tidak begitu berhubungan secara langsung.

Aku kemudian menjelaskan pada pihak majalah tersebut, mereka jelas terkejut karena ternyata diharapkan nantinya ada komunikasi untuk radio online, jelas aneh jika mereka menghubungi orang yang sama tiga kali untuk konsultasi berbeda. Pada akhirnya hanya 5 orang yang diwawancara dan aku meminta untuk tidak diwawancara.

Kejadian yang sama terulang di 2013, Dari pihak majalah yang sama pula. Saat itu mereka ingin mewawancaraku akibat aku aktif berkontribusi tentang spiritualitas, mereka ingin mengali lebih dalam siapa diriku sebenarnya. Mereka juga memintaku mengomentari beberapa topik yang terkenal pada subforum tersebut.

Perbedaannya kali ini pihak majalah itu ceroboh, mereka lebih dulu mengumumkan akan mewawancara beberapa user tanpa konfrimasi pada user-user tersebut. Aku saat itu menggunakan ID yang berbeda untuk subforum tersebut dengan alasan ID sebelumnya terlalu terkenal dan menarik perhatian sehingga sudah tidak nyaman lagi untuk dipakai berdiskusi.

Aku kemudian menjelaskan pada pihak majalah tersebut bahwa topik yang mereka minta aku bahas adalah topik yang aku buat dengan ID berbeda. Tentu tidak objektif. Mau tidak mau aku harus menjelaskan bahwa kedua ID ini adalah milik orang yang sama.

Seringkali terjadi hal seperti ini, ketika aku menulis disebuah forum atau milis, selalu saja ada orang yang mengatakan bahwa "Ah ini kan tulisannya si P di forum A, kok tidak dikasi sumber sih?" atau "Ini mah cuma nambah-nambahin dari tulisan M, hargai karya orang dong!"

Yang komentar ini tidak tau bahwa baik P maupun M adalah ID milikku.

Aku beberapa kali menemukan tulisan dan karyaku menempel di buku-buku penulis Indonesia yang kubeli, mereka menulis sumbernya memang dari link-link yang benar tapi tanpa izin dan mereka meraup keuntungan dari hal tersebut, dipuji oleh banyak pengemar seminarnya.

Di sisi lain, aku diserang karena mengutip karyaku sendiri. Ini menyakitkan.

Aku kemudian menyadari, Popularitas memang membuat kita harus membayar mahal, ternyata menjaga Privasi kita juga harus membayar sesuatu yang mahal. Sejak itulah aku memutuskan untuk memakai satu Pseudonyms yaitu Ron untuk memudahkanku menjaga karya-karya yang kuhasilkan seperti di blog ini.

Bagaimana dengan kalian? Pilih privasi atau popularitas?


2 komentar:

  1. Wow, keren banget sampe punya banyak ID dan semuanya terkenal!

    Tapi jadi orang terkenal memang gampang gampang susah, apalagi masalah privasi.
    Untung gw bukan orang terkenal, jadi ga pernah ada masalah :)

    BalasHapus
  2. Iya, karena mereka selalu ingin tau lebih soal orang-orang dibalik ID yang terkenal. Hanya ingin sekedar tau atau bahkan memamfaatkannya untuk kejahatan :)

    Makanya di dunia internet kita harus lebih bisa menjaga privasi :)

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)