Kamis, 19 Maret 2015

My Stupid Friend : Nilai Waktu

Waktu terus mengalir tanpa kembali, Hargailah



Salah satu bentuk keadilan yang paling hakiki adalah setiap manusia memiliki waktu 24 jam dalam satu hari, terlepas suku, ras, agama maupun warna kulit mereka memiliki jumlah waktu yang sama dalam satu hari.

Bagaimana seseorang memperlakukan waktunya itu, apakah produktif atau tidak seringkali menentukan karakter dan wawasan yang dimiliki seseorang.

Ryu, memiliki pola makan yang sangat unik, karena itu dia menghabiskan waktu yang lama setiap kali makan. Kisah kali ini berkaitan dengan cara makannya.



Kalian mungkin bingung, pola makan yang sangat unik itu seperti apa? Begini, ketika Ryu makan maka dia akan mengunyah sebanyak mungkin setiap suapannya. Terkadang dia terlihat seperti mengolah setiap suapan menjadi bubuk sebelum ditelan karena sangat lama mengunyahnya.

Dia hanya akan makan lebih cepat ketika makan di restoran yang ala carte, misalnya restoran seafood tetapi kalau sudah pesanan seperti nasi goreng atau nasi padang, siap-siap saja untuk duduk lama menunggunya selesai makan.

Mengenalnya cukup lama, membuatku selalu menolak jika dia mengajakku makan di tempat atau menu tertentu, kecuali kami pergi dengan beberapa orang lainnya setidaknya aku akan memiliki teman bicara jika tidak disebut teman sependeritaan.

Suatu hari dia mengajakku makan berdua, seingatku sekitar jam 3 sore kami berangkat. Awalnya kami akan ke restoran seafood, tetapi restoran itu tutup. Kami kemudian beralih ke rumah makan vegetarian.

Kami memesan kemudian mencari tempat duduk, setelah duduk Ryu langsung memegang pipinya. "Kenapa?" tanyaku dengan perasaan cemas, "Gigiku sedang sakit, sepertinya aku tidak bisa makan cepat." Wajahku langsung kaku saat mendengarnya, "Oh, nasibku sungguh buruk hari ini."

Tidak lama pesanan kami datang, jumlahnya cukup banyak. Aku mulai menghitung dalam pikiranku, "Jika jumlahnya segini, kemungkinan dia akan menghabiskannya dalam satu jam dalam keadaan normal." Aku kemudian menghela nafas panjang, "Celakanya kini dia sakit gigi, entah butuh berapa lama dia untuk menghabiskannya."

Ketika kami mulai makan, suasana menjadi hening. Sudah biasa jika makan dengan Ryu, kami tidak akan mengajaknya bicara. Tanpa mengajaknya bicara sudah cukup buruk!

Aku menikmati makananku dengan perlahan, sepelan mungkin. Aku mengunyah lebih banyak daripada biasanya, tetapi memang makanku cepat. Tidak sampai 10 menit, piringku sudah bersih dan mengkilat. Sementara dia, baru memakan 2 suapan! Aku ingin meneteskan air mata saat itu, dan bahkan saat menulis ini aku kembali merasa pilu. Hiks.

Untungnya aku selalu membawa tas kecil ketika berpergian saat itu, aku membawa sebuah buku yang sudah kubaca separuh. "Ryu, sambil nunggu aku baca ya?" Dia mengangguk pelan.

Halaman demi halaman kubuka, tidak terasa buku yang kubaca sudah hampir habis. Aku kemudian melihat suasana sudah gelap, kami tiba saat masih terang dan kini sudah gelap gulita. Lebih dari 2 jam sudah berlalu, dan lebih dari 200 halaman sudah kubaca.

Kulihat ke arah Ryu, untunglah tinggal satu suapan lagi dan dia selesai.

Bersahabat dengannya mengajariku banyak hal, salah satunya menghargai waktu. Dulu aku sering mengeluh ketika dia makan begitu lama, kemudian kusadari bahwa hal itu tidak akan merubah kebiasaannya. Maka aku putuskan bahwa aku yang berubah, dan hal itu menjadi kebiasaan hingga saat ini.

Kita tidak pernah terlepas dari kondisi dimana mau tidak mau hanya bisa diam, misalnya saat mengantri, menunggu atau dalam kemacetan. Waktu sangat bernilai karena itu selalu sediakan kegiatan produktif yang dapat kalian lakukan disaat-saat seperti itu.


2 komentar:

  1. Seriusan ada cowok yang makannya selama itu?? O.O

    BalasHapus
  2. @Stef : Iya, sekarang udah lebih cepat dikit. Biasanya 30 menit deh kalau makan.

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)