Sabtu, 14 Maret 2015

My Stupid Friend : Bisa karena Biasa

Kita bisa mencapai apapun selama mau berusaha dan berproses



Aku mengenal Ryu semenjak usianya sekitar 18 tahun, seumur hidupnya Ryu hampir tidak pernah mengkonsumsi cabe. Keluarganya sangat anti makan cabe, mereka tidak tahan pedas begitu pula dengan Ryu.

Cabe sedikit saja, bisa membuatnya histeris dan gatal-gatal, kalian ingat tulisan sebelumnya? Jika belum membacanya dapat membacanya di My Stupid Friend Coklat dan Sirup. Kejadian ini terjadi tidak lama setelah itu.

Beberapa hari setelah kejadian coklat dan sirup, aku bercerita kepada teman-temanku yang juga mengenal Ryu bahwa ternyata Ryu bisa memakan cabe dengan bai-baik saja, bahkan dia dapat merasa itu manis seperti sirup. Kami menjadi penasaran, maka itu kami melakukan percobaan

Seperti anak muda lainnya, kami juga memiliki masa-masa dimana bersikap tidak biasa. Setiap malam minggu, kami akan meluangkan waktu untuk berkumpul bersama dan setiap kali kami akan melakukan sebuah permainan. Hari itu ada lima orang yang berkumpul, kami bermain lomba makan.

Setiap orang akan memakan Mie Instant rasa kaldu ayam sebanyak 10 bungkus, waktu tercepat menghabiskannya akan menang. Yang kalah harus membayar semua biaya yang dikeluarkan untuk permainan ini, yaitu 50 bungkus mie instant itu.

Jika permainan yang berhubungan dengan makanan, aku selalu mendapat urutan terakhir, karena kecepatan makanku bisa menurunkan motivasi mereka untuk menang.

Ryu mendapat urutan keempat, satu per satu dari kami mulai melakukan permainan ini. Hingga giliran si Ryu. Khusus untuknya tidak memakai bubuk cabe, tapi kali ini kami melakukan percobaan. Kami memasak 10 bungkus mie, dan memberikan satu dari 10 bungkus bubuk cabe itu. Tentunya dengan banyaknya air, maka cabe itu tidak akan terasa sama sekali.

Ryu sedang bersiap-siap di ruang makan sambil pemanasan mulut. Tidak lama kami menghidangkan sepanci besar mie untuk keempat kalinya di meja makan itu.

Kami berempat memperhatikan dengan konsentrasi penuh, Ryu memakan suapan pertamanya. Yang terjadi adalah dia langsung histeris karena kepedasan, wajahnya memerah dan matanya berair. Dia mulai mengumpat-ngumpat kami. "Kalian pakai cabe ya?! Curang!"

Kami terkejut bukan karena makiannya, tapi karena reaksinya. Ternyata ada lidah yang begitu sensitif terhadap rasa pedas.

Beberapa tahun kemudian, Ryu sudah dapat menikmati rasa pedas karena latihan yang kami lakukan padanya, dia satu-satunya dalam keluarganya yang bisa memakan masakan pedas.

Kenapa kami repot-repot melatihnya makan pedas? Jika tidak maka sulit untuk mengajaknya makan di restoran, karena kami semua suka masakan pedas.

Proses yang lama tapi berbuah manis, kini terbukti bahwa orang yang bisa begitu anti makanan pedas akhirnya bisa menerima selama mau berproses. Bukankah hal lain juga demikian?

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)