Rabu, 04 Februari 2015

Upacara Ayam - Kisah tentang kata-kata

http://th08.deviantart.net/fs71/PRE/f/2013/049/8/2/one_mad_chicken_by_the_crusius-d5vf7pd.png 
Mulutmu Harimaumu



 Manusia di dalam dunia sosial selalu terlibat komunikasi dengan orang lain, tidak jarang terjadinya konflik. Seringkali konflik bermula dari perkataan. Hubungan baik antara manusia seringkali rusak oleh kata-kata, Hubungan pernikahan, Hubungan Keluarga, sudah berapa banyak yang rusak karena kata-kata?

Banyak yang telah menyadari bahwa harus lebih bijak dalam bertutur dan berkomunikasi sangat penting, namun sangat sedikit yang melakukannya. Manusia seringkali lupa, ketika sedang marah dengan seseorang maka hal pertama yang harus dilakukannya adalah menutup mulutnya sejenak.

Ada sebuah kisah Inspiratif tentang bagaimana kita lebih memperhatikan ucapan kita.

Upacara Ayam



Upacara ayam tercipta ketika suami baru bertengkar hebat dengan istrinya dan pergi mengunjungi biksu favorit mereka,"saya baru saja mengucapkan kata-kata buruk ini kepada istri saya. Saya muak pada Istri saya ini. Bisakah anda melakukan upacara untuk membantu saya mengatasi rasa bersalah saya?" dan kenyataannya meski orang-orang bertengkar, mereka tidak mau mengakui bahwa kedua belah pihak merasa payah.

Biksu itu berkata,"ya, saya punya upacara yang tepat untuk anda upacara ayam". Ini adalah salah satu upacara Buddhis terkenal dan seharusnya lebih sering dilakukan. Kapan pun anda bertengkar dengan orang lain anda bisa melakukan upacara ayam.

Upacara ayam itu seperti ini,"pergilah ke pasar dan beli ayam yang sudah mati. Bawa ayam itu kepada saya di biara ini, namun di sepanjang jalan menuju biara, saya mau anda mencabut bulu ayam itu seluruhnya dan dilemparkan. Ketika anda sampai ke biara saya mau ayamnya sudah dibului. Tapi pastikan ayamnya sudah mati, karena kita ini welas asih".

Jadi orang ini melakukan seperti yang diperintahkan, seperti banyak orang yang tidak tahu apa tujuan sebuah upacara ritual dan hanya karena seorang biksu mengatakannya, mereka pun melakukannya. Ia pergi ke pasar, membeli seekor ayam, mencabut semua bulunya, lalu memberikannya kepada biksu itu.

"Nah, sekarang apa bagian kedua dari upacara ini? Apa yang harus saya lakukan berikutnya?" biksu itu berkata, "bagus sekali. Berikan saya ayam itu dan kembalilah kemari besok pagi". Ia pulang ke rumah, tanpa tahu apa maksudnya ia harus melakukan semua itu.

Esok paginya, ia datang ke wihara,"Jadi,apa yang kini harus saya kerjakan?" lalu sang biksu memberikan ayam itu kembali kepada pria itu, "Sekarang kembali ke pasar melalui jalan yang sama seperti kemarin dan punguti semua bulu yang telah anda cabut lalu pasang lagi di ayam ini!"

Pria itu terkejut,"Tidak mungkin saya bisa melakukannya! Bahkan sebuah mukjizat jika saya bisa menemukan bulu-bulu itu, apalagi menaruh mereka lagi. Bulu itu sudah dicabut!"

Biksu itu lalu mengucapkan bagian terakhir dari upacara itu,"Tuan sama pula dengan ini. Segala hal yang keluar dari mulut anda adalah seperti bulu yang kemarin sudah dicabut. Begitu keluar, anda tidak bisa menaruhnya lagi. Sering kali, anda bahkan tak bisa menentukannya. Begitu keluar, kata-kata itu telah lenyap".

Itulah upacara ayam untuk anda, yang memberitahu anda untuk berhati-hati akan apa yang anda katakan atau perbuat, karena begitu terlontar dari mulut, anda tak bisa menangkap dan mengembalikannya. Itulah makna upacara ritual, sebagai sarana mengajari seseorang agar lebih eling, lebih berhati-hari akan apa yang mereka katakan. Hanya itu saja.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)