Sabtu, 07 Februari 2015

Dusta Putih - White Lie

Besar atau kecil, Dusta tetaplah Dusta


Berbohong demi kebaikan itu tidak apa-apa, Pernah mendengar kalimat seperti itu? Hal ini sering kita sebut dengan dusta putih atau white lie.

Di masa kini, white lie semakin banyak dijumpai dan seolah menjadi hal yang wajar dalam dunia sosial masyarakat modern tetapi benarkah ada yang disebut dusta putih?

Jika dilihat dari definisinya white lie adalah sebuah dusta yang tidak melukai atau remeh, biasanya untuk menghindari melukai perasaan seseorang.

Sebenarnya banyak orang yang kini mengatas namakan dusta putih untuk kepentingan pribadinya, dia mengatakan bahwa ini untuk kebaikan, ya untuk kebaikan dirinya. Dia berpikir demikian untuk mengurangi rasa bersalahnya, bahwa yang dia lakukan sudah benar atau baik. Itulah pembenaran manusia.

Di lain pihak ada yang berbohong demi kebaikan pihak yang dibohongi, sebenarnya pendapat ini juga berupa asumsi, karena pada dasarnya tidak ada satupun manusia yang ingin dibohongi, dijauhkan dari kebenaran.

Berbohong untuk kebaikan memang mungkin menyelesaikan masalah sementara, namun akan melukai seseorang lebih dalam karena kebenaran pasti akan muncul.

Bagi kalian yang pernah merasakan apa yang orang lain sebut "white lie", apa kalian benar-benar merasa itu yang terbaik untuk kalian? Menurutku white lie justru menghambat seseorang untuk berkembang dan menerima kenyataan.

Dengan mengetahui kebenaran walau terkadang pahit, maka orang akan belajar menjadi lebih kuat, tegar dan berkembang. Berbohong hanya akan menambah masalah menjadi dua kali bahkan lebih, karena ketika kebenaran terungkap dia akan kecewa karena harapan atau pikirannya salah dan dia akan juga kecewa terhadap yang membohonginya.

Aku lebih suka berkata jujur, dan memang resiko kita menjadi orang jujur adalah dijauhi banyak orang. Memang ada beberapa orang yang "ingin" di bohongi, tetapi pada akhirnya akan tetap marah karena kita membohonginya.

Kebohongan tidak pernah bisa dilakukan satu kali, ketika anda berbohong sekali akan ada beberapa kebohongan lain yang mengikutinya untuk menutupi kebohongan yang pertama hingga ketika anda menyadarinya anda telah hidup dalam kebohongan dalam waktu yang cukup lama.

Contoh sederhana saja :

A : Kamu sudah makan?
B : Sudah (Padahal belum, Kebohongan pertama.)
A : Makan jam berapa?
B : 1 jam yang lalu ( Kedua)
A : Makan apa?
B : Nasi goreng (Ketiga)
A : Pedas?
B : Tidak (Keempat)
A : Enak?
B : Iya (Kelima)
A : Kenyang?
B : Lumayan (Keenam)
A : Makan dimana?
B : Di tepi jalan (Ketujuh)
A : Sama siapa?
B : Sendiri (Kedelapan)

Dan seterusnya, Sederhana bukan? Satu kebohongan kecil sudah berlanjut hingga delapan kebohongan dalam waktu 2 menit! Hal ini yang seringkali membuat seseorang hidup dalam rasa bersalah atau hal tidak nyaman ketika menjalani hari-harinya.

Bagaimana solusi ketika anda tidak bisa menyampaikan kebenaran pada seseorang bagaimanapun juga? Maka cobalah untuk diam, menurutku lebih baik diam tidak menjawab daripada berbohong. Ketika berbohong kita hanya akan melukai satu sama lain.

Seringkali hal ini terjadi dalam sebuah hubungan pasangan, ingatlah sebuah hubungan membutuhkan kepercayaan, memang kebohongan kecil sulit merusak sebuah hubungan tetapi kebohongan kecil yang terus menerus akan merusak kepercayaan satu sama lain, Hubungan tanpa keyakinan hanya akan memiliki satu akhir.

Psikolog Robert Feldman, Profesor dari University of Massachusetts Amherst ini menyatakan rata-rata manusia berbohong sebanyak 11 kali dalam sehari. “Enam puluh persen dari kita memiliki waktu yang sulit untuk melalui 10 menit percakapan tanpa berbohong setidaknya dua kali,” tutur Feldman.

Bayangkan bagaimana dunia sosial kita saat ini sudah demikian penuh dengan kebohongan akibat kewajaran berbohong dalam masyarakat kita, padahal menurut penelitian Anita E. Kelly, seorang profesor psikologi di University of Notre Dame. Kelly melakukan penelitian yang disebut "The Science of Honesty" untuk menentukan bagaimana kejujuran memiliki dampak pada kesehatan.

Dia mengambil dua kelompok yang terdiri dari 36 orang. Kelompok pertama, yang disebut kelompok Ketulusan, diperintahkan untuk berbicara "jujur, sesuai fakta, dan tulus" dan "selalu mengungkapkan apa pun yang ingin mereka katakan" setiap hari selama lima minggu. Sementara kelompok kontrol lainnya tidak diberi instruksi khusus.

Selama penelitian, kedua kelompok melakukan tes polygraph dan ujian kesehatan fisik. Ternyata, hasilnya menunjukkan kelompok Ketulusan mencatat kondisi kesehatan yang lebih baik dibanding kelompok kontrol. Beberapa penyakit yang hilang atau jarang muncul antara lain sakit tenggorokan, sakit kepala, mual dan stres.

Kelly bahkan kemudian mencoba mempraktikkan sendiri penelitian tersebut dalam hidupnya sendiri, mengikuti instruksi yang sama.

"Biasanya, saya harus tidur selama delapan jam tidur dan mengalami 5-7 pilek di musim dingin," kata Kelly. "Sekarang saya hanya perlu tidur tiga jam, dan saya tidak pernah pilek sejak musim gugur."

Mari kita meningkatkan kesehatan diri dengan mengurangi kebiasaan berbohong. :)

2 komentar:

  1. Hehehe...daftar pertanyaannya bikin orang melanjutkan kebohonganya terus. Tapi memang nyatanya begitu. Ada yg tak jujur karna terdesak keadaan, misalnya karna malu makan di rumah orang. Supaya bisa jujur, baiknya melatih diri dari hal2 kecil. Dan sll ingat bahwa kebohongan diizinkan hanya dalam keadaan perang (Strategi).

    BalasHapus
  2. @Kak Tia : Perang juga bukan hal baik kak :)

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)